Ketimpangan Sulbar yang Kian Melebar – Sulbar Express
Opini & Interaktif

Ketimpangan Sulbar yang Kian Melebar

Pertumbuhan ekonomi secara tidak langsung menunjukkan keberdayaan perekonomian suatu wilayah. Bila ekonomi tumbuh maka terjadi proses perekonomian yang berdaya guna menuju kondisi yang lebih baik, dilihat dari bertambahnya pendapatan wilayah. Namun ukuran pertumbuhan ekonomi masih belum bisa mencerminkan kesejahteraan masyarakat. Diperlukan pula indikator yang mengukur ketimpangan ekonomi untuk memperjelas bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut mampu mensejahterakan penduduknya sehingga dapat dikatakan pertumbuhan ekonomi yang terjadi berkualitas.

Oleh : R. A. LEISA TRIANA

Koefisien Gini (Gini Ratio) selama ini menjadi indikator yang digunakan oleh pemerintah untuk mengukur ketimpangan pengeluaran di suatu wilayah. Rasio tersebut kemudian dijadikan sebagai salah satu acuan dalam pengambilan kebijakan di bidang perekonomian. Gini Ratio dibagi atas tiga level. Menurut Todaro (2006), nilai Gini Ratio berkisar antara 0 dan 1. Level pertama, menunjukkan tingkat ketimpangan yang rendah, yaitu berada pada kisaran 0 sampai 0,3. Level kedua, ketimpangan menengah, yaitu antara 0,3 hingga 0,5.  Level ketiga, ketimpangan tinggi, yaitu berada di atas 0,5.

Gini Ratio yang mengukur tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia tercatat turun tipis. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, angka ketimpangan pada September 2016 lalu sebesar 0,394 atau turun 0,003 poin dari nilainya pada Maret 2016 sebesar 0,397. Angka ini juga menurun dibandingkan rasio gini September 2015 sebesar 0,402. Faktor yang berpengaruh terhadap perbaikan tingkat ketimpangan pengeluaran selama periode September 2015 ke September 2016 adalah karena kenaikan pengeluaran per kapita per bulan penduduk kelompok 40 persen terbawah dan 40 persen menengah yang meningkat lebih cepat dibandingkan penduduk kelompok 20 persen teratas.

Bagaimana dengan Sulbar?

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat pada tahun 2016 mencapai 6,03 persen, dengan inflasi mamuju tahun 2016 sebesar 2,23 persen. Inflasi masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonominya. Begitu pula halnya dengan tingkat kemiskinan yang turun sebesar 10 persen dalam kurun waktu 10 tahun, dari 20,74 persen pada tahun 2006 menjadi 11,19 persen di tahun 2016.  Sebuah pencapaian pembangunan yang cukup baik. Namun bila dilihat dari sisi ketimpangan pendapatan, telah terjadi ketimpangan yang melebar antara si miskin dan si kaya. Distribusi pendapatan masyarakat di Pulau Sulawesi lebih buruk dibandingkan dengan di Pulau Bali dan Nusa Tenggara, Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Bahkan sedikit lebih buruk dibandingkan dengan distribusi pendapatan di Pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari nilai gini ratio di Pulau Sulawesi tahun 2016 yang bernilai antara 0,36-0,43. Berdasarkan data BPS terlihat nilai gini ratio di Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah tahun 2016 lebih kecil dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Sulawesi, yaitu 0,36. Sementara nilai gini ratio tertinggi di pulau Sulawesi ada di Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu 0,43.

Ketimpangan di Sulawesi Barat terus mengalami peningkatan, baik daerah perkotaan maupun perdesan. Berdasarkan data BPS, tercatat pada September 2016 angka gini ratio mencapai 0,371, nilai ini naik dari 0,355 pada tahun 2013. Gini ratio perdesaan tercatat 0,317 di tahun 2013 dan terus mengalami peningkatan sehingga pada September 2016 tercatat 0,341. Sementara gini ratio perkotaan Sulawesi Barat berfluktuasi dari 0,410 pada tahun 2013 kemudian menurun menjadi 0,380 di tahun 2014 kemudian meningkat kembali bahkan mencapai 0,441 pada september 2016. Angka ini menempatkan daerah perkotaan Sulawesi Barat menjadi daerah yang ketimpangan pendapatannya tertinggi se-Indonesia.

Sejalan dengan informasi yang diperoleh dari gini ratio, ukuran ketimpangan Bank Dunia pun mencatat bahwa ketimpangan di perkotaan Sulawesi Barat lebih parah dibandingkan dengan ketimpangan di perdesaan. Persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di perkotaan pada September 2016 sebesar 15.55 tergolong pada ketimpangan sedang, sementara di perdesaan sebesar 19,44 persen tergolong pada ketimpangan rendah.

Prev1 of 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top