Se-Indonesia Timur, Pesantren Baruga Raih Juara 3

oleh -219 views

MAKASSAR, sulbarexpress.fajar.co.id – Bank Indonesia gelar Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Bank Indonesia Road to ISEF 2017 yang digelar di Gedung Phinisi Makassar. Berlangsung sejak tanggal 25 hingga 27 Agustus.

Festival ini merupakan bagian dari rangkaian acara menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017 di Surabaya yang akan dilangsungkan pada November 2017.

Pada Festival tersebut, mempertemukan sejumlah perwakilan dari provinsi yang ada di Indonesia Timur. Diantaranya dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan, Maluku dan Papua.

Mereka berkompetisi untuk memperebutkan juara lomba pada bidang lomba kesenian daerah bernuansa Islami, pemilihan duta ekonomi syariah, pildacil dan kaligrafi.

Utusan Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Barat, yang mengikutsertakan Pondok Pesantren Ihyaul ‘Ulum DDI Baruga, Majene, tak ketinggalan menyabet juara. Pada kompetisi tersebut utusan Sulawesi Barat hanya mampu bertengger pada posisi ketiga setelah utusan dari provinsi tetangga, Sulawesi Selatan berhasil meraih posisi pertama dan menyusul dari Kalimantan Tengah pada tangga kedua.

Manajer Tim dari Pondok Pesantren Ihyaul ‘Ulum DDI Baruga, Masykur Djalil kepada awak media menuturkan pencapaian tersebut tak menyurutkan semangat anak binaannya untuk terus memacu diri lebih baik. Menurutnya, kendati meraih posisi ketiga pada kontestasi tersebut, bukan berarti itu bukan sebuah prestasi.

“Anak-anak kami tetap semangat. Bagi mereka diberi kesempatan untuk tampil ditingkat region seperti ini memberinya pengalaman dan pembelajaran positif. Soal juara itu adalah hasil akhir dari usaha yang kita lakukan. Mereka tetap senang karena ini adalah pengalaman berharga mereka untuk terus memacu diri di masa mendatang,” tuturnya.

Dalam perlombaan tersebut, utusan Sulbar menampilkan parade kesenian daerah yang dikolaborasi dengan pembacaan kitab barzanji, tarian perang dan Sayang-sayang Mandar.

“Jadi mereka menggunakan alat musik tradisional seperti calo, tappiang dan lainnya untuk menghasilkan aksi kesenian unik sesuai dengan tema yang diusung pada lomba ini,” ujarnya menambahkan. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *