Transportasi Becak Diambang Kepunahan

oleh -159 views

sulbarexpress.fajar.co.id, POLEWALI – Seiring perkembangan zaman, Jika menoleh ke belakang sekitar tiga puluh tahun lalu, becak bisa dikatakan sebagai salah satu alat transportasi yang diandalkan masyarakat kota Polewali Mandar.

Namun, Kini kondisinya berbeda 180 derajat. Tukang becak kian terpinggirkan dan nyaris tak mampu bersaing dengan kehadiran Bentor (Becak Motor).

Nasib kendaraan dengan tenaga manusia ini sudah menjadi “barang langka” di jalan-jalan kota Polewali. Bahkan gerombolan tukang becak yang sering berseliweran mangkal di sejumlah sudut pasar menunggu dan mencari penumpang kini sudah tak terlihat lagi. mungkin masih ada satu atau dua orang yang masih mengayuh becak, tapi itupun tak jelas mangkal dimana.

Salah satu mantan tukang becak di Polman Naharuddin (55 tahun) mengaku sudah beralih mengemudikan alat transportasi dari becak menjadi bentor, meski demikian, becaknya tetap digunakan mengangkut sayur mayur dan rempah-rempah dagan istrinya ke pasar setiap pagi hari.

“Becak sudah lama saya parkir, nanti saya pakai kalau mau ke pasar bawa jualan mamanya anak-anak,” kata Naharuddin, Kamis 4 Januari.

Kasatlantas Polres Polman AKP Paulus Patibang saat dikonfirmasi mengatakan becak mulai tergusur ketika bentor bertahap masuk dan menjadi alat transportasi favorit sehingga jumlahnya membludak, kata dia, untuk meminimalisir perkembangan bentor, Satlantas kerap kali melakukan operasi terhadap bentor yang melanggar aturan lalu lintas.

“Kemarin saya sudah mulai tindaki bentor apalagi yang lewat jalan poros karena sesuai kesepakatan di DPRD. Tidak boleh lewat di jalan poros kecuali pada pagi hari saat membawa anak sekolah,” tegas Paulus.

Paulus juga menyampaikan sesuai regulasi lalu lintas bentor dilarang mengambil muatan, kedepan pihaknya segera berkoordinasi dengan pengurus bentor serta Dishub untuk mencari solusi agar tak ada yang dirugikan.

“Saya juga prihatin dengan tukang becak, karena boleh dikata mata pencahariannya diambil sama bentor,” ungkap Paulus.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Polman Yusuf Djalaludin membenarkan jumlah bentor sudah melebihi ambang batas, bahkan sudah dua kali lipat dari batas yang ditetapkan Dishub.

“RDP kemarin di DPRD disepakati jumlah bentor cuma bisa 200 tapi sekarang ini sudah mencapai 500 bentor,” terangnya.

Selain itu, bentor sudah jelas menyalahi aturan dan sangat melanggar karena muatannya berada di depan dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer perjam, menurutnya bentor hanya bisa mengambil muatan jika ditaruh disamping sama seperti di Provinsi Aceh.

“Bayangkan kalau dia terbalik makanya dalam undang-undang nomor 22 tahun tahun 2009 tentang lalu lintas mengenai pelarangan bentor seperti itu kendalanya,” tandasnya.(ali/hab)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *