MASA PRAPASKAH, MASA PERTOBATAN TOTAL – Sulbar Express
Opini & Interaktif

MASA PRAPASKAH, MASA PERTOBATAN TOTAL

Ilustrasi

Setiap agama memiliki kekayaan rohani. Kekayaan rohani inilah yang dapat membantu para penganutnya untuk semakin dekat dengan Tuhannya. Setiap penganut (baca: orang) ingin agar memperoleh keselamatan kelak di dunai akhir. Untuk menggapai cita-cita universal itu, sejak awal, hiec et nunch dibangun relasi yang intim dengan Tuhan lewat kehidupan rohani. Tidak ada cara lain untuk memperoleh keselamatan kekal yang kita sebut surga, hanya dengan memperkuat iman kita yang dilaksanakan dalam peziarahan hidup ini kepada sesama ciptaan. Karena iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati. Iman belumlah disebut iman bila belum terimplementasikan dalam kehidupan nyata.

(Anton Ranteallo, SS, M.Pd – Penyuluh Agama Katolik)

SALAH satu tindakan nyata dari masa Prapaskah bagi umat Katolik adalah mengumpulkan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Ini adalah gerakan tobat bersama dalam satu persekutuan dan dilakukan pada masa puasa, sebagai penyempurnaan laku puasa dan mati raga. Semua ini diaktualisasikan dalam pembaharuan diri yang diwujudkan dalam pembangunan masyarakat. Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa masa Prapaskah sekali lagi memberi kita kesempatan untuk merefleksikan jantung kehidupan kristiani, yakni amal kasih. Saat ini adalah saat yang tepat untuk memperbaharui perjalanan iman kita baik personal maupun komunal dengan bantuan Sabda Allah dan sakramen-sakramen. Perjalanan ini ditandai dengan doa dan saling berbagi, dengan keheningan dan puasa sebagai antisipasi dari kegembiraan Paskah.

Apa tujuan aksi itu? Kebersamaan. Tuhan menyelamatkan manusia secara bersama, demi karya keselamatan Allah. Rekonsiliasi, pemberesan hubungan dengan sesama, semesta alam, dan Tuhan, melalui olah tapa, pemurnian diri. Membangun dunia baru, dengan ikut membangun dunia baru yakni langit yang baru dan bumi yang baru. Metanoia, berbalik kepada Tuhan.

Makna Masa Prapaskah

Bulan ini umat kristiani secara universal (khususnya umat Katolik) menjalankan salah satu kekayaan rohani yang dimiliki oleh gereja yakni masa Prapaskah. Masa Prapaskah adalah masa untuk berdoa, berpuasa dan memikirkan sesama kita. Dalam periode ini kita diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri memasuki masa Paskah, melaksanakan pemeriksaan diri dari hidup kita. Masa Prapaskah adalah masa liturgi dari pertobatan, yang oleh Gereja ditandai dengan mempersiapkan diri menyongsong hari pesta besar Paskah.

Masa Prapaskah adalah masa yang sangat istimewa untuk menyesali atas segala dosa kita sehingga kita bisa hidup lebih dekat dengan Kristus. Masa Prapaskah berlangsung 40 hari yang dimulai dengan hari Rabu Abu dan diakhiri pada Minggu Palem, hari dimulainya Pekan Suci. Pada masa ini warna liturgi adalah ungu yang berarti berkabung dan penitensi. Masa Prapaskah adalah waktu untuk berefleksi, masa pertobatan batin saat persiapan ke dalam Misteri Agung Paskah.

Masa Prapaskah berlangsug selama 40 hari. Angka ini adalah simbol nomor 40 dalam  Kitab Suci. Dalam hal ini berbicara mengenai air bah, 40 tahun perjalaan bangsa Yahudi di gurun pasir, 40 hari dari Musa ke Elia di atas gunung, 40 hari Yesus berpuasa di gurun sebelum memulai hidup di depan umum. Injil Matius mengisahkan bahwa Yesus benar-benar dibawa ke padang gurun oleh setan, segera setelah Ia dibaptis oleh Roh Allah, dicobai selama 40 hari lamanya. Dan 400 ratus tahun bangsa Yahudi kerja paksa di Mesir. Dalam kitab suci nomor 4 melambangkan dunia materi alam semesta diikuti nomor 0 yang melambangkan waktu dari kehidupan kita di bumi yang diikuti dengan berbagai pencobaan dan kesukaran-kesukaran hidup.

Rangkaian liturgi Paskah merayakan peristiwa-peristiwa yang mengarah ke penyaliban Kristus. Rangkaian liturgi ini diawali dengan 40 hari masa Prapaskah pada hari Rabu Abu. Abu dari kata Latin cinis adalah hasil dari pembakaran sesuatu dengan api. Dengan demikian diperoleh lambang dari kematian, kadaluwarsa, dan dalam arti berlawanan dari kerendahan hati dan penitensi. Pada hari Rabu Abu orang kristiani menerima Abu di dahinya dengan tanda salib dari abu hasil pembakaran dari daun-daun palem yang telah diberkati pada hari Minggu Palem tahun sebelumnya. Umat Kristen diolesi dengan Abu di dahi mereka dan imam/pastor mengatakan, “Manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu”. Rumusan lain, “Berobatlah dan percayalah kepada injil Kerajaan Allah sudah dekat”. Hal ini dibuat sebagai jawaban dari Sabda Allah yang mengajak kita untuk bertobat. Prapaskah dimulai dengan abu dan diakhiri dengan api, air, dan terang dalam Malam Paskah. Sesuatu harus dibakar dan dihancurkan dalam diri kita manusia lama untuk memberi tempat kepada hidup yang baru dari kebangkitan Kristus. Itulah pengorbanan. Untuk sampai pada keselamatan harus melalui pengorbanan yang total, sebagaimana yang diteladankanoleh Yesus sendiri.

Litani Pertobatan

Litani merupakan rangkaian doa, harapan yang didoakan untuk hadirnya rahmat Tuhan bagi kita dan sesama. Dengan mendaraskan litani tersebut dengan penuh kesadaran dan keyakinan akan terjadi rekonsiliasi, metanoia, dan pertobatan diri secar total. Dalam masa Prapaskah ini, masa pertobatan yang ditandai dengan berpuasa dan berpantang menurut aturan Gereja. Berikut ini litani pertobatan yang dapat menjadi inspirasi bagi kita, dan litani tersebut, kita bisa melanjutkan sesuai refleksi kehidupan kita.

Berpuasa dengan tidak mengadili orang lain dan peduli diri sendiri dengan Kristus yang hidup di dalam mereka. Berpuasa dengan tidak mengelurkan kata-kata yang melukai orang lain dan dirimu dengan kata-kata yang sehat. Berpuasa dengan rasa kurang senang dan penuhi diri dengan rasa syukur. Berpuasa dengan kemarahan dan penuhilah dengan kesabaran. Berpuasa dengan rasa pesimis dan ubah dengan rasa optimis. Berpuasa dari rasa kecemasan dan penuhi diri dengan kepercayaan kepada Tuhan. Berpuasa dalam keluh kesah dan penuhi diri atas kekaguman atas keajaiban misteri dalam kehidupan. Berpuasa dari perasaan akan tekanan hidup yang tidak kunjung henti dan penuhi diri dengan doa yang tidak henti-henti. Berpuasa dalam kepahitan hidup dan menggantikannya dengan penuh pengampunan. Berpuasa dalam patah semangat dan menggantikan dengan penuh harapan. Berpuasa dalam mementingkan diri sendiri dan menggantikannya dengan menaruh perhatian kepada orang lain. Berpuasa dalam pikiran-pikiran menjerumuskan dan menggantikannya dengan janji-janji dari Tuhan yang telah menciptakanmu. Selamat berefleksi. (*)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top