Dua KK Miliki Anak Cacat Fisik, Berharap Uluran Tangan Dermawan

oleh -144 views

sulbarexpress.fajar.co.id, POLEWALI – Ujian berat harus dialami suami istri Aco Jupri (24) dan Nurma (34) yang tinggal di Dusun Bulung, Desa Tonrolima.

Hal itu, dirasakan lantaran anak ketiganya Nur Azila hanya bisa bermain di seputaran tempatnya saja karena terlahir dengan kondisi fisik cacat, tangan kiri dan kaki kirinya puntung, tidak seperti anak seusianya yang sudah belajar merangkak dan berjalan di usia yang sudah hampir satu tahun.

Ibu kandung Nurma mengatakan untuk berpindah tempat Nur Azila sangat bergantung pada ibunya. Semangat orang tuanya pun tak pernah kendur merawat dan membesarkan Nur Azila dengan penuh perhatian.

“Nur Azila anak ketiga saya pak, dua kakaknya Muh. Akif Faizal (10) dan Muh. Sahlan Safiq (2) lahir dengan kondisi anggota tubuh yang lengkap, sangat jauh berbeda dengan kondisi Nur Azila yang sangat memprihatinkan,” kata Nurma.

Ternyata hal serupa dirasakan Muh. Asing (40) dan Harmawati (37) tinggal didusun yang sama, dimana anak pertamanya Harmiati dari suami terdahulunya ini sejak lahir sudah hidup diatas ayunan dan kereta bayi. Lantaran menderita kelainan saraf dan hanya bisa mengandalkan ibu dan ayah tirinya untuk berpindah dari ayunan ke kereta bayi.

Ayah tiri anak tersebut Muh. Asing menyampaikan kondisi Muh. Aidil memang sangat memprihatinkan, di usianya yang sudah beranjak remaja dia masih tetap hidup diatas ayunan dan belum bisa makan sendiri, Wajahnya pucat dan sangat kurus, Muh. Aidil tinggal dibawah kolong rumah bersama orang tuanya beralaskan selembar tikar sebagai tempat berteduh di waktu siang dan malam.

“Sesekali dia hanya bisa menangis dan berteriak ah,ah ah pertanda dia meminta sesuatu kepada ibunya,” ungkapa Muh Asing.

Kondisi ekonomi kedua keluarga ini pun tidak jauh berbeda, Aco Jufri ayah Nur Azila hanya berprofesi sebagai pengembala itik dan traktor dompeng saat musim turun sawah tiba, dihari-hari lainnya Keluarga ini tidak memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sedangkan Aco Jufri dan Nurma beserta anaknya masih mengandalkan uluran dari orang tua mereka. Kondisi rumah mereka pun sangat memprihatinkan kamar tidur tempat mereka berlindung dibuat dari karung bekas yang dijahit lalu dibuat sekat.

Muh. Akif anak pertamanya yang sudah berusia sepuluh tahun juga sudah putus sekolah, karena terkendala biaya meski sebuah sekolah dasar berada tidak jauh dari tempat tinggalnya.

“Sudah kelas empat SD kalau anak saya lanjut sekolah,” terangnya.

Kedua keluarga ini hanya mendapatkan bantuan beras miskin dari pemerintah daerah sementara untuk bantuan lainnya seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Program Keluarga Harapan (PKH) belum tersentuh sama sekali.

“Sudah dapat Raskin dengan harga murah pak,” jelasnya.

Selain itu, anak pertamanya dari suami dahulunya tersebut sudah sejak lahir mengalami cacat fisik saat usianya 40 hari, sepuluh tahun kemudian ia menikah dengan Muh. Asing dan belum dikaruniai anak sampai sekarang, Harmawati berharap anaknya bisa mendapat perawatan medis yang mumpuni, lantaran dirinya masih punya harapan anaknya sembuh dari penyakitnya.

“Dokter pernah menyampaikan pada saya, kalau anakku masih punya peluang sembuh dan bisa berjalan,” tandasnya.

Nasib malang yang menimpa dua keluarga tersebut mendorong Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kemenag Polman Muh. Yusuf beserta Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Polman Budi bersama siswanya mengunjungi keluarga dan melihat kondisi anak yang lahir dengan kondisi cacat fisik di Desa yang sama ini, Dalam kesempatan tersebut Muh. Yusuf memberikan bantuan berupa sembako dan susu formula. (ali/hab)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *