Tiga Pasang Batal Nikah, 447 Peristiwa Nikah Tahun 2017

oleh -164 views

sulbarexpress.fajar.co.id, POLEWALI – Pembiayaan pernikahan diluar balai sebesar Rp. 600 ribu berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 tahun 2014 dan itu menjadi pegangan Kantor Urusan Agama (KUA).

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Polewali Sudiarto mengatakan selain pembiayaan yang diatur peraturan pemerintah, pihaknya menegaskan tidak ada lagi pungutan biaya (Gratifikasi) yang diluar ketentuan.

“Pernikahan di luar KUA dibayar melalui bank yang telah ditunjuk. Misalnya ada calon pengantin datang kesini melaporkan bahwa dia mau nikah 10 hari sebelumnya persyaratan harus¬† dilengkapi. Setelah melengkapi berkas baru kita tanya mau nikah dimana bisa disini dan juga bisa diluar yang penting siap bayar yang Rp.600 ribu itu,” kata Sudiarto, Senin 12 Maret.

Ia menambahkan calon pengantin yang ingin menikah dibalai nikah KUA maka tidak dipungut biaya sama sekali, hal ini menjadi alternatif pilihan bagi calon pengantin yang tidak memiliki uang.

“Meskipun anaknya Gubernur atau siapa tetap gratis kalau nikah di balai nikah,” tambahnya.

Sudiarto juga menyampaikan bagi calon pengantin yang ingin nikah diluar balai nikah, setelah  melakukan  pembayaran melalui bank kemudian bukti pembayarannya diminta untuk dimasukkan kedalam berkas KUA, sesudah itu data calon pengantin dikirim via online.

“Uang yang ditransfer calon pengantin itu ke kas negara, tapi nanti akan kembali lagi kesini untuk ongkosnya penghulu yang menikahkan diluar. Jadi nanti pada saat hari pernikahannya akan didatangi penghulu dari KUA,” ungkap Sudiarto.

Sementara itu, adanya pihak tertentu memanfaatkan ketidaktahuan keluarga pasangan pengantin itu bahwa pengurusan pembayaran diwakilkan kepada petugas kelurahan atau pihak lainnya. Oknum ini kemudian minta pembayaran di atas tarif resmi maka itu sudah termasuk pungutan liar (Pungli).

“Kalau diatas Rp.600 ribu itu namanya pungli dan kami tidak tahu itu, tidak usah diwakilkan karena pembayaran ke bank dapat dilakukan secara langsung dan tanda bukti diperlihatkan kepada KUA terdekat,” tegas Sudiarto.

Selain itu, pihaknya juga mengungkapkan selama kurun waktu 2017 tercatat ada 447 peristiwa nikah di Kecamatan Polewali, 25 pasangan nikah di balai nikah sementara di Luar balai nikah sebanyak 391 pasangan. Lalu kemudian Isbat nikah 28 pasangan, batal nikah ada tiga pasang, wali nasab 440 pasang dan duplikat nikah 59 pasang.

“Tiga pasangan batal nikah itu karena sudah jadi itu buku nikah begitu kita sudah siap siap berangkat ingin nikahkan ternyata ini istrinya mengugat minta dibatalkan jadi menangis ini lakinya terpaksa kami juga tidak berani nekat dan kebetulan kejadiannya sudah tiga kali,” tandasnya.

Peristiwa nikah 2018 hingga memasuki periode maret berdasarkan data KUA Polewali sebanyak 94 pasangan dengan rincian 41 pasang pada bulan januari, 45 pasang bulan pebruari serta delapan pasangan hingga pertengahan bulan maret.(ali/hab)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *