Catatan Silaturrahmi Kebudayaan Cak Nun dan Kiai Kanjeng 2018 (Bagian 2), Etalase Tuhan Dalam Cinta Cak Nun Pada Mandar

oleh -245 views

Jika pada 30 April 2016 Risalah Cinta Cak Nun dan Kiyai Kanjeng dilabeli tema Cammanallah, maka pada Silaturrahmi Kebudayaan yang akan digelar pada kunjungannya ke Mandar, 9-10 April 2018 kali ini mengangkat tema Manaraturrahmah.

Oleh : Muhammad Munir
(Penggiat Literasi RUMPITA-Tinambung)

Cammanallah adalah buah dari kecintaan seorang Cak Nun kepada seorang maestro seni rebana di Mandar, Cammana’ yang sekaligus didapuk oleh Cak Nun menjadi sosok Ibu Mandarnya. Ikatan batin
seorang Cak Nun dengan sosok Cammana’ merupakan ikatan yang direkat dengan cahaya keilahian. Pertalian seorang Ibu dan anak karena Allah telah mampu diwujudkan Cak Nun dalam segala situasi.

Mandar dan simpul-simpul lokal wisdom-nya bagi Cak Nun bukanlah materi yang
bersifat lokal, tapi kearifan-kearifan itu ia manifestasikan secara universal dan menjadi salah satu material dan elemen paling penting dalam struktur bangunan rahmatan lil alamin. Dalam konsep rahmatan lil alamin itu keberadaan Cak Nun tak lagi terbantahkan bagi Mandar, Indonesia bahkan dunia. Ia bahkan mengaku sebagai orang Mandar dibeberapa kali kesempatan entah saat tampil dalam aktivitas rutin bulanan dengan komunitas masyarakat Padhangmbulan atau di jamaah Maiyah Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat Yogyakarta, Padhang Mbulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Bambang Wetan Surabaya, Maiyah Baradah
Sidoarjo, Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali termasuk Papperandang Ate Mandar.

Manaraturrahmah yang menjadi topik agenda Cak Nun kali ini sesungguhnya
merupakan etalase Tuhan yang tersimpul dalam asmaul husnah-Nya yaitu Rahman dan Rahim. Manaraturrahmah adalah puncak dari kasih dan sayang seorang Cak Nun. Sepintas mungkin ada yang beranggapan bahwa Cak Nun pernah berguru tarekat di Mandar. Tapi sungguh, ia bahkan tidak pernah mempelajari tasawuf melalui jalur pendidikan baik formal, informal maupun non-formal. Tetapi dalam berbagai pengajian Maiyah, termasuk di Mandar pemahaman yang terkandung dalam literatur tarekat dan tasawuf Imam Lapeo dan Annangguru Saleh dengan gambling diuraikan oleh Cak Nun. Sehingga jangan heran, bahwa Cak Nun bagi Mandar adalah puncak kasih sayang dan persaudaraan yang terbuhul dengan tali ukhuwah yang tidak jarang di uraikan oleh Cak Nun setara dengan pembahasana mrtabat wujud dalam kitab al-futuhat al-makkiyah, karya monumental Ibn Arabi. Itulah Cak Nun, guru bangsa yang dimiliki oleh Indonesia, tentu saja milik Mandar sebab Cak Nun adalah Mandar itu sendiri.

Cak Nun dan Mandar tahun ini masuk dalam lembar dasawarsa ketiga. Namun sejak
informasi kedatangan Cak Nun mulai viral di medsos, tak jarang saya ditanya tentang sosok Cak Nun yang banyak diidolakan oleh masyarakat Mandar. Atas dasar itu, saya mencoba memberi gambaran bahwa Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara yang lahir pada 27 Mei 1953. Pendidikan formalnya hanya berakhir di semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari pondok Modern Darussalam Gontor setelah melakukan ‘demo’ melawan pimpinan pondok karena sistem pondok yang kurang baik, pada pertengahan tahun ketiga studinya. Kemudian ia pindah ke Yogyakarta dan tamat SMA Muhammadiyah I. Istrinya yang sekarang, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi yang pada medio 90-an sangat akrab dan familiar sebagai pelakon Siti Nurbaya dalam film Kasih Tak Sampai.

Saat diberi kesempatan memberi testimoni pada puncak perhelatan 17 Tahun Kenduri Cinta di Juni 2017 di Taman Ismail Marsuki (TIM) Jakarta, sempat aku jujur pada pada Cak Nun dan ribuan Jamaah Pengajian Kenduri Cinta tentang Siti Nurbaya. Siti Nurbaya yang pada masa itu membuatku harus berjalan sekitar 2 km dalam gelap malam untuk bisa nonton tayangan film Siti Nurbaya ini. Kekagumanku pada Cak Nun semakin kuat ketika mendengar bahwa Siti Nurbaya dapat merapat oleh pinangan Sang Kanjeng. Saya tak lagi berfikir tentang
marahnya Datuk Maringgih ketika Cak Nun memboyong Siti Nurbaya ke Istana Maiyah. Yang pasti kebanggaan dan kebahagiaanku semaikin tak terbendung sejak bisa berdiskusi panjang lebar dengan Cak Nun di Menturo sampai fajar mengintip diufuk timur.

Kebanggaan itu tentu membuatku semakin bersemangat mengurai dan men-share
informasi tentang Cak Nun. Dalam searching tentang Cak Nun dibelantara dan rimba internet, saya harus memberi tahu pembaca bahwa Cak Nun tentu bukanlah seorang yang tiba-tiba menjadi seorang tokoh. Ia mempunyai proses sejarah hidup yang menginspirasi. Lima tahun ia hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975, belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Masa-masa itu, proses kreatifnya dijalani juga bersama Ebiet
G Ade (penyanyi), Eko Tunas (cerpenis/penyair), dan Eh. Kartanegara (penulis).

Selain itu, ia juga pernah mengikuti Lokakarya Teater di Filipina (1980), International Writing Program Di Universitas IOWA, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Cak Nun juga pernah terlibat dalam produksi film Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya (2011), skenario film
ditulis bersama Viva Westi. Cak Nun tidak terkait secara formal yang dapat dijadikan alasan akademis maupun intelektual untuk secara metodologis menyimpulkan adanya hubungan antara gerakan jamaah maiyah yang memperoleh inspirasi, pembimbingan, pengayoman dan pengajaran dari seorang Cak Nun dengan gagasan-gagasan pemikiran dan ideology yang berkembang dalam sufisme.(*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *