Peringati Hari Perawat Sedunia, Sampaikan Masalah Perawat Lewat Teatrikal

oleh -183 views

sulbarexpress.fajar.co.id, POLEWALI – Ratusan perawat se Kabupaten Polman menggelar pertunjukan drama teatrikal dan menyalakan 1205 lilin di Lapangan Pancasila, Sabtu malam 12 Mei.

Ratusan perawat ini secara serentak mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mars perawat. Lalu dilanjutkan aksi teatrikal salah satu seniman lokal Ali Jenk yang berkolaborasi bersama tujuh orang perawat menceritakan nasib perawat yang masih terkatung-katung meski sudah mengabdi belasan tahun.

Ketua PPNI Polman Rusdianto mengatakan gerakan perawat honorer menuntut upah layak beberapa hari lalu murni memperjuangkan profesi perawat. Kata dia, perawat itu tumbuh untuk melayani masyarakat dengan tulus ikhlas, namun pengabdiannya masih kadang dipandang sebelah mata.

“Aksi unjuk rasa kemarin, murni mengadu dan memperjuangkan nasib perawat bukan ditunggangi hal-hal yang berbau politik,” jelasnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah membatasi umur perekrutan CPNS maksimal 35 tahun telah merugikan profesi perawat lantaran banyak perawat yang sudah melampaui batasan umur tersebut. Padahal mereka sudah mengabdi belasan tahun.

“Semoga perjuangan perawat ini tidak sia sia. Saya berharap anak-anaku kuat menghadapi tekanan karena ini masa perjuangan,” ungkapnya.

Ia berharap melalui aksi teatrikal pemerintah tergugah terhadap penderitaan perawat sukarela khususnya mengenai upah minim sebesar Rp100 ribu perbulan yang hanya didapatkan dari belas kasihan PNS Puskesmas.

“Pemerintah jangan tinggal diam melihat penderitan perawat ini, saya harap hati semua pihak yang bertanggung jawab bisa tergugah malam ini,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Gerakan Nasional Perawat Honorer Indonesia (GNPHI) Polman Rahmat saat membacakan puisinya kepada sang ibu keperawatan Florence Nightingale, mengungkapkan ucapan maaf yang setingginya-tingginya karena banyaknya pelakon sandiwara yang bersembunyi dibalik profesinya sehingga menodai perawat.

“Engkau tulus bagai melati suci yang selalu memberi senyum kepada manusia yang tersakiti. Sang ibu keperawatan, kami akan selalu menjaga titipan mu,” tuturnya.

Lanjut Rahmat, hari ini profesi titipan ibu Florence Nightingale bersedih dengan memakai kerudung hitam dikepala sebagai simbol tanda berduka lantaran profesi perawat telah diperbudak.

“Kadang kami mendapat caci maki dari lidah yang tidak bertulang dari keluarga pasien. Meskipun kami telah bersahabat dengan kotoran, nanah dan air seni,” tegas Rahmat sembari menangis tersedu-sedu. (ali/hab)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *