Program Padat Karya, Desa Campurjo Prioritaskan Infrastruktur

oleh -172 views

sulbarexpress.co,id, POLEWALI – Menindak lanjuti kebijakan pemerintah pusat dalam menetapkan pola baru pemanfaatan dana desa yang difokuskan ke sektor padat karya, Desa Campurjo Kecamatan Wonomulyo mencanangkan program padat karya pembangunan infrastruktur.

Program yang digagas antara lain, talud, irigasi, dan rabat beton. Rencana ini berdasarkan usulan masyarakat pada pelaksanaan Musrenbang desa. Program padat karya ini menggunakan anggaran 30 persen dari jumlah alokasi dana desa (ADD) Desa Campurjo sebesar Rp728.000.000.

Kepala Desa Campurjo Usman Padong mengungkapkan proyek padat karya ini akan dikerjakan secara swakelola. Pekerja proyek diserap dari warga setempat dengan demikian, dana desa tidak hanya digunakan untuk membeli bahan material infrastruktur saja, melainkan juga untuk membayar honor pekerja.

“Dalam aturannya yang terlibat dalam pelaksanaan program padat karya adalah masyarakat pra sejahtera baik laki-laki maupun perempuan,” katanya saat ditemui, Sabtu 3 Juni.

Usman menambahkan jumlah masyarakat yang menjadi buruh untuk empat titik program padat karya mencapai empat ratus orang. Kata dia, program padat karya ini merupakan salah satu upaya pemerintah memberikan tambahan penghasilan warga desa sehingga sesuai dengan harapan Pjs Bupati Polman.

“Karena pemerintah desa diharap bisa memberikan THR kepada masyarakatnya. Nah melalui program padat karya inilah bisa diwujudkan,” ucapnya.

Camat Wonomulyo, Umbar yang turut hadir pada hari pertama pelaksanaan program padat karya pembangunan talud di Dusun Kuningan Desa Campurjo, menyampaikan, Kecamatan Wonomulyo terdiri atas 13 desa dan satu kelurahan.

“Untuk pos anggaran yang digunakan untuk setiap desa berbeda-beda karena tergantung pada kebutuhan,” tutur Umbar.

Ia menambahkan pengawasan program padat karya ini, pihaknya akan melibatkan Bidang Pemerintahan Desa (PMD) dari kantor kecamatan dan tenaga pendamping desa sebagai pengawas.

“Untuk tenaga kerja baik perempuan ataupun laki-laki kategori tidak mampu yang penting mau kerja diberi upah Rp70 ribu per hari,” jelas Umbar.

Salah satu ibu rumah tangga yang ikut menjadi buruh pada program padat karya di Desa Campurjo, Erni, mengaku senang bisa dilibatkan dalam pembangunan talud yang merupakan pengalaman pertamanya menjadi kuli bangunan proyek.

“Senang bisa bantu suami untuk tambah penghasilan keluarga apalagi sudah dekat lebaran,” bebernya.

Sementara itu, staf tenaga ahli pembangunan partisipasif tingkat kabupaten Syukur Parallui menuturkan tenaga pendamping desa tidak hanya melakukan pengawasan pada program padat karya tapi secara menyeluruh pada proses pengelolaan dana desa.

“Khusus untuk program padat karya fokus kami sebagai pendamping yakni memastikan upah yang tercantum dalam RAB setiap kegiatan yang tiga puluh persen wajib terserap ke masyarakat. Kemudian memastikan masyarakat yang terlibat benar-benar yang masuk sasaran,” tandasnya. (ali/hab)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *