Ekspedisi Sungai Mandar (01), Menyusuri Sungai Mandar, Perjalanan Wajib – Sulbar Express
Inspirasi

Ekspedisi Sungai Mandar (01), Menyusuri Sungai Mandar, Perjalanan Wajib

Bersama Nasa dan Bashar menentukan titik pertemuan antara tim darat dengan Ridwan yang akan menelusuri Sungai Mandar.

Menyusuri Sungai Mandar itu wajib. Laksana seorang anak diberi nama “Mandar”, maka si anak tersebut harus tahu apa makna namanya. Begitu kira-kira analoginya, kita, si anak tersebut, sebagai orang Mandar haru tahu apa itu “mandar”.

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Setidaknya lima tahun lalu cita untuk menyusuri Sungai Mandar diidamkan. Mencicipi telah dilakukan satu dua kali, paling banter pakai rakit dari Desa Alu, semenjung kecil di Sungai Mandar, berjarak lebih kurang 25 km dr muara. Jauh masa sebelumnya, paling dari Lekopadis, menghanyut bersama kayu. Saat menemani pak guru di MTsN mengambil kayu dikebunnya. Atau saat membuat esei foto “passauq wai”.

Harapan itu dipendam saja, belum tahu akan pakai media transportasi apa. Meski rakit masih bisa jauh digunakan ke arah hulu dari Alu, tapi untuk saya kemudian sendiri agak repot. Meski relatif lebih gampang dari pada sampan “lepa-lepa”, mengemudikan rakit butuh kekuatan dan kecepatan serta daya tahan. Kesimpulannya, menggunakan rakit untuk berekspedisi disilang alias tak bisa.

Sampan “lepa-lepa” juga demikian. Sampan khas Mandar itu hanya bisa dilakukan di bagian sungai yang dalam, berupa genangan. Di jeram berbatu jelas tak bisa. Jadi, disilang juga sebagai sarana yang tidak bisa digunakan berekspedisi.

Hingga suatu waktu beberapa bulan lalu, saat saya ke toko alat-alat luar ruangan dan berpetulang, tampak perahu karet kecil. “Nah ini dia,” gumam dalam hati. Saya langsung jatuh cinta dan beberapa saat kemudian membuat penggalangan donasi untuk membeli perahu itu dalam rangka Ekspedisi Sungai Mandar. Harga Rp 9,5 juta relatif mahal buat kantong. Tapi nilai itu masih jauh lebih murah dibanding jenis perahu yang juga ada di toko itu yang saya lihat dua tahun sebelumnya, Rp 25 juta.

Singkat cerita, dibantu beberapa teman (lewat donasi di internet dapatnya Rp 500-san ribu saja, sebagian transfer langsung) dan hasil penjualan buku Ekspedisi Bumi Mandar (catatan saya di Radar Sulbar saat melakukan perjalanan di beberapa tempat di Sulawesi Barat), pertengahan Agustus saya bisa membeli perahu karet kayak kecil yang akan saya gunakan di ekspedisi yang paling lama saya citakan. Dibilang paling lama sebab ekspedisi saya yang lain hanya hitungan pekan atau bulan untuk kemudian bisa dilakukan. Sedang ekspedisi sungai tahunan.

Perahu karetnya hampir empat meter, lebar setengah meter, dan bisa muat beban orang dan barang 180 kg. Berselang dua hari setelah membeli di Makassar, kayak karet langsung dibawa ke pedalaman untuk memulai Ekspedisi Sungai Mandar.

Ekspedisi Sungai Mandar diawali dengan perjalanan ke Taramanu, Kecamatan Tutar pada 17 Agustus 2018. Idealnya ekspedisi dimulai betul-betul di hulu Sungai Mandar. Karena beberapa faktor, seperti musim kemarau, masih minimnya informasi tentang kondisi di hulu, cara akses ke sana, dan belum terbiasa menggunakan kayak, maka diputuskan untuk mengawali ekspedisi di Taramanu, sebagai tahap pertama. Dari hitung-hitungan di peta, dari Taramanu ke Tinambung bisa dilakukan kurang sepekan. Akses juga relatif mudah, khususnya mobilitas barang bawaan ke lokasi start.

Rencana awal akan melakukan ekspedisi solo. Belakangan, kurang dua hari dari hari H, beberapa teman mengajukan diri untuk ikut serta membantu Ekspedisi Sungai Mandar. Mereka adalah Bashar, Iman dan Nasa. Ketiganya pemuda dari Majene, sudah kenal lama. Bashar dan Iman sudah pernah sama-sama di lapangan saat melayarkan Perahu Pustaka di Selat Makassar. Saya terima dan berterima kasih. Ekspedisi Sungai Mandar berat, jadi idealnya inisiatif dari mereka sendiri untuk ikut, bukan saya yang ajak. Mereka oke.

Meski ikut, untuk perjalanan di Sungai Mandar hanya saya sendiri sebab kendaraannya hanya satu perahu yang hanya muat satu orang. Praktis mereka lewat jalan darat alias jalan kaki. Kami tinggal tentukan di titik mana akan ketemu (lewat peta).

Usai shalat Jumat di ‘panyingkul’ Mapilli, setelah menunggu tukang ojek hampir tiga jam, kami ke Taramanu. Kami berempat tapi sewa lima ojek: empat untuk orang, satu untuk barang yakni perahu karet. Perahu karet saat dikempiskan disimpan dalam tas berukuran besar yang beratnya lebih 20 kg. Sewa satu ojek ke Taramanu Rp 80.000. Menuju lokasi titik pemberangkatan adalah pengeluarah terbesar dalam operasional, total Rp 400.000. Wajar, jalanan ke pedalaman parah. Pun tergolong jauh.

Kurang lebih sejam naik ojek, menjelang pukul lima sore, kami tiba di bantaran Sungai Mandar di Taramanu. Terima kasih buat pemotor handal yang mengantar kami, yaitu Haris, Masud, Syukur, Kadir, dan Mahyuddin.

Mumpung belum gelap, kami mendirikan tenda di atas bebatuan berjarak beberapa meter dari pinggir sungai. Idealnya kalau pasang tenda di sisi sungai, minimal berjarak 50 meter dan di atas ketinggian. Tapi karena bukan musim hujan dan potensi air sungai meluap amat kecil (pun tidak ada binatang buas di sungai), kami putuskan untuk pasang tenda di bagian lapang di sisi Sungai Mandar.

Pasang tenda di bebatuan, di sisi Sungai Mandar yang jernih dan berjeram kecil adalah kebahagiaan. Hal seperti ini sulit didapatkan di Tinambung atau di sekitar muara. Saya, Bashar, Iman dan Nasa gembira bukan main. Capek hilang.

Agar tak direpotkan bawaan yang berat atau supaya praktis, jika melakukan perjalanan jauh, baiknya menggunakan tenda “fly sheet”. Yakni selembar kain tipis, kuat berukuran 3 x 4 meter. Jika dilipat/digulung baik-baik, dimensinya hanya sebesar batu bata. Pun amat ringan. Tak memakan ruang di dalam tas. Saat pasang, cari saja dua tongkat setingga 1,5 meter dan tali. Kapasitas bisa memuat setidaknya lima orang plus barang-barang. Selain “fly sheet”, juga membawa satu tenda “tent” (biasa dikenal dengan istilah tenda bulan) ukuran kecil. Itu untuk tempat barang saat kami berkemah. Adapun tikar kami membawa empat matras hitam kecil, yang biasa dibawa petualang saat melakukan perjalanan.

Kami memasak menggunakan kompor kecil yang berbahan bakar gas kaleng. Itu sudah sangat oke untuk masak nasi dan air. Oh iya, supaya hemat bahan bakar, untuk air minum, saya membawa penyaring atau filter. Tinggal masukkan air mentah dari sungai ke dalam kantong, maka dari pipa (setelah melewati filter) akan keluar air layak minum. Alat ini bisa mengilangkan 99,99 % kuman atau bakteri yang ada di air mentah.

Makan malam hanya makan nasi dan telur goreng. Biasanya saat persiapan beberapa hal yang akan dibutuhkan dalam perjalanan terlewatkan, khususnya isi ‘dapur’. Nanti pas sesi masak dan makan baru teringat. Harusnya bawa cabe, krupuk, dan penambah rasa yang lain saat makan, yang tetap praktis dibawa-bawa. Meski demikian, nasi dan telur sudah cukup lumayan membuat kami kenyang. Suasana damai dan ada api unggung saya lewatkan. Saya memilih untuk cepat istirahat sebab esok perjalanan panjang, hari pertama Ekspedisi Sungai Mandar akan dimulai.

Bersambung

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top