Ekspedisi Sungai Mandar (02), Menempuh 50 km dari 100 km Sungai Mandar – Sulbar Express
Feature

Ekspedisi Sungai Mandar (02), Menempuh 50 km dari 100 km Sungai Mandar

Ekspedisi Sungai Mandar menggunakan kayak atau perahu karet kecil.

Banyak yang tidak tahu apa itu Mandar. Banyak yang tahunya itu nama suku, nama bahasa saja. Banyak anggap itu hanya nama kawasan. Dan, ini yang ironi, banyak yang tidak mau disebut “orang Mandar” padahal tinggal di Mandar.

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Semalam, tengah malam, kami harus berpindah tempat tidur. Gara-gara hujan gerimis. Khawatir menjadi lebat, kami pindah ke semacam bangunan kayu, mirip pos kamling, yang ada di pinggir sungai. Selain tenda, semua barang kami pindahkan. Kami berempat seperti ikan asap, dijejer di atas perapian. Bukan apa, lantainya pas memuat empat orang saja kala berbaring. Bolak-balik badan sedemikian susah. Meski begitu, kami lelap tertidur.

Awal pagi 18 Agustus dijalani dengan santai tapi deg-degan juga. Bunyi air mengalir melewati bebatuan menambah kesan itu. Membayangkan perahu kayak melintasi jeram-jeram. Usai sarapan biskuit kacang serta kopi, perahu karet disiapkan. Dikeluarkan dari tasnya, dihamparkan di atas bebatuan.

Perlahan perahu karet terisi angin. Di perahu karet kayak yang saya gunakan terdiri dari lima bagian yang “pentil-nya” sendiri-sendiri. Jadi, kalau ada yang bocor, tidak semuanya langsung kempis. Ada tiga bagian utama yaitu sisi kiri dan kanan perahu (diameternya sebesar bantal guling) dan ‘lantainya’ Bagian-bagian itu paling besar. Yang dua adalah semacam tas berisi angin (yang juga harus kencang) yang disisipkan di sela balik haluan dan buritan perahu. Alat pompa menggunakan tenaga tangan, bentuk atau cara kerjanya mirip dengan alat penghembus udara yang digunakan pandai emas, seperti alat kerja bapakku. Bedanya, pandai emas menggunakan kaki.

Usai dipompa, yang dibantu Nasa, kayak diturunkan ke sungai. Dalam hati baru sadar, harusnya sih ada kuliwa-kuliwa dilakukan di rumah sebelum membawa perahu ini pergi ‘bekerja’. Tapi tak apa, semoga semua berjalan lancar.

Meski sering pakai lepa-lepa, menggunakan kayak baru kali ini. Perahu karet sih pernah, saat ikut teman-teman berarung jeram di salah satu sungai di Magelang (Jawa Tengah) beberapa tahun lalu, saat masih kuliah di UGM. Dulu itu ramai-ramai, saya sebagai penumpang pegang saja tali di perahu karet. Ga ikut mendayung. Kali ini, perahu karetnya kecil, saya sendiri, dan pertama kali. Sadar Sungai Mandar yang akan dilalui tak memiliki jeram yang ganas, saya tidak terlalu khawatir.

Saya anggap tidak melalui jeram yang bertingkat-tingkat karena berdasar info masyarakat, dari Taramanu ke Alu biasa orang bawa kayu, yang dihanyutkan. Pun, saat ekspedisi dilakukan, sedang musim kemarau. Sungai sepertinya dangkal. Malah yang saya pikir adalah akan lebih banyak mendapat perairan dangkal, yang membuat perahu kandas, yang membuat saya turun dari kayak lalu menariknya.

Selain ada jeram kecil di tempat kami berkemah, juga ada bagian yang dalam dan berair tenang. Itu sempurna untuk latihan. Disitulah kayak diturunkan untuk kemudian melakukan kursus kilat menggunakan kayak yang benar-benar kilat. Kurang sejam kemudian kayak harus saya gunakan secara serius selama seharian berkilo meter.

Kayak ini sangat beda dengan lepa-lepa, yang bagi pemula, lebih banyak memikirkan dan berusaha untuk tidak terbalik. Sedang kayak ini, berdiri dan lompat-lompat pun tak membuatnya terbalik. Jadi, si pengayuh tinggal berusaha saja untuk bergerak alias fokus saja mengayuh.

Sebab desain dasar lambungnya “flat” (datar) saja, kayak sangat mudah berbelok. Mengayuh di kanan maka akan langsung mengarah ke kiri. Demikian juga sebaliknya. Oleh sebab itu, dayung yang digunakan berdaun di kedua ujungnya. Dayung jenis ini pun pertama kali saya gunakan. Berbeda dengan dayung lepa-lepa, satu daun saja. Usai mengayuh di kiri maka harus langsung kayuh di kanan. Karena dua ujung ada daun, si pengayuh tidak repot-repot pindahkan daun atau bilah dayung dari satu sisi ke sisi lain.

Mengayuh satu dua kali. Sadar, ternyata kayuh yang digunakan, bawaan saat beli kayak, tidak begitu kuat. Selain terbuat dari plastik (gagang maupun daunnya), dayung itu terdiri dari lima bagian yang disambung-sambung: gagang terdiri dari tiga pipa dan daun/bilah dua. Untuk menyambungnya menggunakan ulir alias dimasukkan saja ke ujung pipa lalu diputar. Panjang total dua meter.

Menggunakan di perairan tenang sih mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau di jeram, jelas tak kuat apalagi sesekali akan digunakan menumpu di batu atau dasar sungai. Takut mengalami dampaknya (patah), gagang dayung dilapisi dengan bilah bambu untuk kemudian dililit dengan tali “webbing”. Memang kuat, tapi membuat diameter gagang bertambah. Secara ergonomis itu kurang begitu baik. Membuat tangan cepat capek.

Lewat jam sembilan pagi, usai membongkar tenda, kayuhan pertama Ekspedisi Sungai Mandar dimulai. Di atas perahu terdapat dua “dry bag” ukuran 55 liter. Isinya perlengkapan logistik yang kemungkinan besar akan saya gunakan sampai sore. Seperti kompor, gas, mi instan, kopi. Juga ada peralatan navigasi. Paling penting GPS yang akan merekam serta mengukur jalur ekspedisi secara ‘real time’.

Adapun yang melekat di badan lebih pada perlengkapan keamanan: helem, pelampung, sepatu, serta pisau. Menggunakan helem meski ga ada ‘sweeping’ agar ketika terjatuh di jeram yang berbatu kepala tetap aman. Saya sampaikan terima kasih untuk teman dari Korpala Universitas Hasanuddin yang mendonasikan helm buat saya. Warnanya kuning, mencolok dari jauh. Pas di lapangan.

Awalnya pakai pelampung, tapi beberapa puluh meter kemudian saya lepas. Air tak dalam alias potensi berbahaya tenggelam sangat kecil. Tapi pertembangan utama adalah pelampung yang ketat membuat aktivitas mengayuh kurang lancar. Pun panas. Jadi saya letakkan di depan saja.

Sepatu juga maha penting. Memang sih kegiatan utamanya bukan berjalan atau “trekking”, yang menggunakan kaki sebagai alat gerak utama. Tapi karena akan berjalan di bebatuan saat sungai dangkal, sepatu harus melindungi kaki. Sepatu membuat bebas berjalan, tidak khawatir sakit tertusuk batu atau licin. Untung saya menggunakan sepatu yang lumayan kualitasnya, jadi tidak berat dan tidak mudah lepas meski digunakan dalam kondisi basah; digunakan berjalan di sungai.

Pisau tak kalah penting. Bisa dikatakan, dalam kondisi atau bersiap menghadapi keadaan ‘survival’, pisau adalah alat utama. Dalam dunia ‘survival’ ada pameo, hal kedua yang harus kita miliki setelah pengetahuan adalah pisau!

Nyaris tak terhitung peran pisau. Dari memotong tali, membuat tongkat, perlindungan diri dari binatang buas hingga meningkatkan kepercayaan diri dalam melakukan perjalanan berbahaya. Pisau atau benda tajam lain sudah digunakan nenek moyang kita sejak ribuan tahun lalu, mulai dari zaman batu hingga sekarang ini. Pisau adalah alat paling lama mendampingi manusia “survive” di planet bumi.

Dalam perjalanan ini saya menggunakan pisau jenis “bushcraft”, yakni pisau kecil sepanjang telapak tangan orang dewas, tebal dan tajam. Pisau jenis itu cocok di kegiatan alam liar. Bisa memotong kayu keras, menguliti hewan, membuat benda menjadi runcing/tajam namum tetap mudah dibawa-bawa.

“Bismillah, ….” Ekspedisi Sungai Mandar dimulai. Separuh Mandaq, dari total lebih kurang 100 km, akan ditelusuri. Ya, inilah Mandar. Mandar itu nama sungai. Masyarakat pesisir melafalkan “mandar”, saudara kita di pedalaman mengatakan “mandaq”. (Bersambung)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top