Ekspedisi Sungai Mandar (03), Antisipasi Jika Bertemu Buaya – Sulbar Express
Feature

Ekspedisi Sungai Mandar (03), Antisipasi Jika Bertemu Buaya

Bersama bocah-bocah di Sungai Mandar yang menjadikan kegiatan memanah ikan sebagai permainan.

“He, mandaq o,”, kata salah seorang anak di belakang saya saat dia menyaksikan tampilan Sungai Mandar di dalam layar ‘handphone’ saat saya mengoperasikan ‘drone’.

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Ya, Mandar adalah nama sungai. Orang-orang tua dulu, seperti saudara nenek saya, kalau mau ke Sungai Mandar untuk mandi, akan mengatakan “Nanaunaq di mandaq mandoeq” (saya akan ke Mandaq untuk mandi). Itu senada dengan nama tempat di hulu Sungai Mandar, yang disebut Ulu Mandaq. Salah satu kawasan di Kabupaten Majene menggunakannya sebagai nama kecamatan, sebab memang hulu (ulu) Sungai Mandar masuk di wilayah Kabupaten Majene.

Beberapa budayawan atau penulis di Mandar memberi pendapat tentang asal kata Mandar. Ada yang bilang berasal dari bahasa Arab, ada yang mengartikan cahaya, ada memaknai mengantar, dan lain-lain. Tapi saya sih sederhana saja, Mandar itu nama sungai. Lalu apa makna kata “mandar” atau “mandaq”, nah ini yang ingin saya cari tahu jawabannya lewat ekspedisi.

Beberapa ratus meter dari titik start ekspedisi masih proses adaptasi. Mana yang lebih mengenakkan antara duduk selonjor atau bersila; letak genggaman tangan di gagang dayung; posisi duduk di atas kayak (apakah di tengah, agak ke haluan atau agak ke buritan). Belum lagi basah-basahan dari kaki yang bersepatu hingga celana. Kadang juga iseng berpikir kalau menyadari saat ini, di tengah hutan dan sungai malah saya pakai helem. Biasanya orang pakai helem kala bermotor, di jalan raya. Dan jujur saja, banyak yang terpaksa pakai helem karena takut ‘disweeping’ polisi alias bukan karena alasan keselamatan.

Melakukan perjalanan, dari biasa-biasa saja hingga yang ada potensi bahaya dibaliknya kita, dituntut melakukan persiapan untuk meminimalkan resiko kita mengalami kecelakaan atau berada di kondisi “survival”. Kadang, kemampuan atau kesiapan seseorang menghadapi kondisi tersebut bisa nampak dalam perjalanan-perjalanan ‘biasa saja’. Apakah saat mengenakan helem dia mengunci hingga bunyi “klik”, ketika naik mobil dia pasang sabuk pengaman meski orang atau sopirnya malah tidak, apakah dia mengetahui letak pintu darurat di pesawat, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang sebenarnya itu bisa menjadi penentu.

Nah ketika kita sering melakukan perjalanan, dengan sendirinya itu membuat kita terbiasa melakukan persiapan menghadapi kondisi-kondisi darurat. Ada dua faktor utama yang menentukan keselamatan kita. Pertama adalah faktor obyektif , meliputi iklim dan cuaca, lingkungan. Kita tak bisa menghentikan matahari bersinar, sebagaimana malam akan selalu muncul. Tapi pengaruh negatif dari faktor obyektif itu bisa ditiadakan atau diminimalkan oleh faktor subyektif.

Karena tahu akan hujan, tentu kita bisa menghindari basah dengan membawa jas hujan, akan gelap saat malam maka harus ada senter, biasanya ada binatang buas maka bagus kalau membawa senjata untuk perlindungan diri, banyak nyamuk di lingkungan tropis agar tak digigit atau terhindar dari penyakit malaria kita bawa kelambu dan minum pil kina. Begitu seterusnya. Dengan kata lain, sejatinya keselamatan kita sangat dipengaruhi faktor subyektif. Sudah tahu jalan yang dilalui penuh onak dan duri, tapi koq malah pakai sandal; tahu akan dingin di puncak gunung malah ga membawa jaket.

Tumbuhnya kesadaran menghadapi kondisi darurat adalah salah satu tujuan penting dalam aktivitas luar alam (outdoor) kita. Ikut kegiatan kepecintalaman tidak melulu gagah-gagahan atau prestasi saja sebab berhasil mencapai puncak. Di balik itu, ada proses tempa, melatih fisik, jiwa dan alam sadar menghadapi kondisi darurat. Di saat kita berada dalam kondisi darurat itu, bila persiapannya mantap, akan potensi keluar dari kondisi berbahaya jauh lebih cepat dibanding sama sekali tak ada persiapan.

Makin enjoy dengan perjalanan, suasana aliran Sungai Mandar di antara belantara mulai dibaca. Daerah aliran sungai (DAS) Mandar bisa digolongkan sebagai sungai kecil, apalagi di bulan-bulan sekarang, musim kemarau. Lebar sungai malah ada yang cuma 3 – 5 meter. Paling lebar, yang berair, paling lebar hanya 50-an meter. Kedalaman pun demikian. Paling dalam, perkiraan saja sebab saya tak ukur langsung, paling dua meter. Sebagian besar malah dangkal, yang membuat kayak kandas.

Sungai Mandar “tak ada apa-apanya” bila dibandingkan Sungai Mahakam dan Sungai Musi, sebagai dua sungai besar di Indonesia. Ndak usah sebut Sungai Nil dan Amazon, Sungai Mandar itu seujung kuku. Paling setara anak sungai untuk sungai-sungai besar itu. Sungai paling besar di Sulawesi Barat setidaknya ada dua, Sungai Lariang (Mamuju Tengah) dan Sungai Karama (Mamuju). Yang kedua, Sungai Karama, sudah pernah saya telusuri, mulai dari Kalumpang (pedalaman) sampai Tarailu (tidak terlalu jauh dari muara, Sampaga).

Baik kondisi jeram, debit air dan panjang, antara Sungai Mandar dengan Sungai Karama, Sungai Mandar itu kira-kira sepertiganya saja. Kalau tidak salah ingat, jarak telusur yang saya tempuh dari Kalumpang ke Tarailu sekitar 70 km (dari Kalumpang ke arah hulu masih beberapa puluh kilometer). Waktu itu menggunakan “katinting”.

Katinting bermesin dan jauh lebih berat dari kayak saya. Nah kantinting ini ga pernah kandas. Pun nyaris mesin jalan terus; perahu jalan terus. Artinya, memang air dalam. Lebarnya ga ada yang tiga meteran, paling lebar pun ada sampai puluhan meter. Beberapa kilometer dari muara ke arah hulu pun kapal motor masih bisa masuk. Beda dengan Sungai Mandar, sekarang paling jauh kapal bisa sampai Lekopadis atau hanya 3 km dari muara.

Dari hitung-hitungan di peta, panjang Sungai Mandar sekitar 100 km. Sebagian besar DAS-nya masuk wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Tapi bagian pentingnya atau hulunya ada di wilayah Kabupaten Majene. Informasi ini penting agar tidak ada pandangan bahwa Sungai Mandar itu “milik” Polewali Mandar saja. Belum lagi kalau memasukkan daerah penyangga atau pemberi stok air atau penjaga kelangsungan kawasan hijau di hulu, yang tentu didukung oleh hutan-hutan di wilayah Kabupaten Mamasa.

DAS Mandar tak seram-seram amat. Sering muncul ‘peringatan’ dari satu dua teman yang menyampaikan “Awas buaya” ketika tahu saya akan menelusuri Sungai Mandar. Melihat kondisi Sungai Mandar, apalagi di kawasan pedalaman, bukanlah habitat buaya. Beda kalau di kawasan muara. Sekarang pun nyaris tak pernah ada bukti kuat, misalnya melihat langsung, adanya buaya di Sungai Mandar. Dulu ada, tapi sekarang belum ada bukti ilmiah. Seperti adanya foto atau orang mati karena tergigit.

Meski demikian, dalam perjalanan ini saya tetap sedia menghadapi kondisi bertemu buaya. Ya, sudah ada perhitungan, kalau melihat buaya akan bagaimana; kalau buaya seruduk kayak kira-kira akan berbuat apa. Skenario bergelut dengan buaya juga ada. Paling kalau ada buaya di Sungai Mandar tak ada yang sebesar buaya Sungai Nil, yang lebar tubuhnya seukuran dengan kayak yang saya gunakan. Sering nonton National Geographis, sedikit banyak tahu kebiasaan buaya saat mencari mangsa.

Yang memungkinkan ada adalah ular, misal ular sawah atau piton. Sebab dua ular itu tak berbisa, persiapan subyektif yang bisa kita lakukan tidak terlalu komplek. Maksudnya, seandainya tergigit tak perlu anti bisa agar nyawa terselamatkan. Cukup kita bawa pisau yang melekat di badan (tidak disimpan di dalam tas), sebagai jaga-jaga kalau tiba-tiba ada ular melilit tubuh.

Level bahaya Sungai Mandar jauh berkurang di mata saya ketika menyaksikan aktivitas unik masyarakat di sungai. Kegiatan memanah ikan menggunakan harpun membuat terpana, agak kaget. Saya seperti masuk lorong waktu; berpindah ke kampung Bajau di pulau kecil. Sedikit kaget. (Bersambung)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top