Ekspedisi Sungai Mandar (04), To Mandaq, Pemanah Jitu di Sungai – Sulbar Express
Feature

Ekspedisi Sungai Mandar (04), To Mandaq, Pemanah Jitu di Sungai

Bersama pemanah ikan di Sungai Mandar.

Menembak ikan menggunakan harpun, diistilahkan “pana” saja di Mandar (Inggris: spear fishing), memang bukan barang baru. Waktu kecil, saya sering melihat orang nyelam menembak ikan di Batu Mianaq, situs angker di Calo-calo, Tinambung.

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Adik saya punya kegiatan sampingan, selain sebagai guru di SMA 2 Majene, juga memproduksi harpun (harpoon) dan hampir tiap pekan pergi nembak ikan. Tapi itu di laut, bukan di sungai. Yang jadi ‘suprise’ saat menyusuri Sungai Mandar dan melihat penembak ikan, adalah aktivitas itu nyaris saya temukan rata-rata tiap satu kilometer. Bukan hanya orang dewasa, tapi anak-anak. Ada beraksi solo, ada rombongan.

Sepertinya, menembak ikan jadi cabang permainan rakyat anak-anak pedalaman. Bukan hanya petak umpet, main bola, “mammaling”, tapi juga nembak ikan di sungai. Dikatakan sebagai permainan sebab kalau disebut bertujuan cari ikan untuk dijual, kurang pas. Ikannya kecil-kecil saja, kadang seukuran jempol.

Menyusuri Sungai Mandar 50 km akan lebih banyak ditemukan penembak ikan dibanding jarak yang sama menyusuri pesisir laut Sulawesi Barat. Menembak ikan di laut satu dua saja, di Sungai Mandar tak berlebihan menyebut puluhan.

Kejutan tak berhenti di situ. “Kecanggihan” alat pun membuat terkesima. Mereka menggunakan sumberdaya yang mudah mereka dapat. Badan harpun pakai kayu, karetnya pakai ban dalam motor/mobil/sepeda. Lalu anak panahnya, ini yang unik, pakai rangka payung. Ukurannya macam-macam, tergantung pemakainya. Kalau anak-anak paling 50 cm, orang dewasa lebih semeter. Tak ada yang sampai dua meter (ukuran standar harpun di laut), sebab kondisi perairan yang tak cocok senjata panjang.

Sekedar info, rencana di Ekspedisi Sungai Mandar saya membawa serta harpon yang diproduksi adikku. Tapi karena ukurannya merepotkan membawa-bawa ke pedalaman (padahal itu sudah tergolong kecil untuk harpun di laut), harpun yang sudah saya pinjam itu batal dibawa. Untung juga tak dibawa sebab tak cocok. Seperti bawa meriam untuk bunuh nyamuk.

Perlengkapan keduanya adalah kacamata. Istilah asingnya “google” atau kacamata berenang, di Mandar cukup disebut “kaca”. Lengkapnya sih kacamata, tapi disingkat “kaca” saja. Bingkainya kayu, kacanya kaca biasa alias bukan kaca khusus yang tahan tekanan (tempered), segelnya berbahan macam-macam. Ada pakai damar, aspal dan resin. Talinya tentu pakai karet dalam.

Kebetulan saya membawa “google” berbahan plastik – karet buatan pabrik. Kami bertukar pinjam dan bercanda “Mau nggak tukaran?”. Dari penampilan, mereka berminat pada punya saya itu. Tapi saat mereka coba, agak kurang sreg bagi mereka. Ada rasa lembek di wajah; ada nuansa yang ‘tidak serius’ dipakai menyelam. Saya sampaikan, ya memang kurang cocok. Punya mereka lebih oke dan otentik.

Perbedaan mendasar antara menembak ikan di laut dan Sungai Mandar ada pada teknik. Di laut bisa dipastikan kita menyelam beberapa meter, berenang-renang. Nah di sungai beda. Di sini, apalagi di jeram yang dalamnya sepaha, si penempak membungkuk aja, memasukkan wajah ke dalam sungai, mengawasi ada tidaknya ikan di bawah batu. Itu kalau dangkal, kalau dalam baru mirip-mirip teknik di laut. Itu pun di sungai sangat minim menggerakkan tubuh untuk berenang. Hanya menyelam, pegang batu, lalu mencari-cari ikan. Kesimpulannya, di laut dilakukan dengan berenang, di sungai lebih banyak berjalan.

Ikan target macam-macam. Anak kecil biar ikan sebesar jari ditembak juga. Kalau orang dewasa sebesar telepon genggam sampai ikan “masapi” (belut).

Kurang lebih dua jam perjalanan dari Taramanu, tepatnya di daerah Bawarakang, saya menyaksikan sekumpulan orang dewasa berkumpul di bebatuan besar. Mereka sedang mengawasi dua “pappana” berusaha mengeluarkan “masapi” yang tertahan di bawah batu di dasar sungai. Saat mereka tembak, “masapi-nya” lari masuk ke dalam sela batu besar membawa serta anak panah yang menancap ditubuhnya.

Butuh usaha keras. Secara bergantian Padman dan Lomang, nama dua orang dewasa seusia saya yang “mappana” bergantian turun berusaha menarik “masapi”. Mereka menggunakan senter kecil anti air memperhatikan posisi si belut. Agak lama mereka berusaha untuk kemudian diputuskan belut ditembak lagi (target kepala) agar mudah ditarik. Saya ikut turun saat eksekusi tersebut mereka lakukan.

“Syuuut”, bunyi anak panah telah dilepaskan. Padman ambil nafas sejenak di permukaan untuk kemudian turun lagi, menarik perlahan keluar lubang sembunyi belut dan diangkat naik ke permukaan. Agar anak panah tak lepas ketika dilesatkan, antara panah dengan senjata ada tali plastik yang panjangla lebih dua meter.

Belut seukuran satu meter lebih berusaha memberontak. Sekeras apa pun usahanya tak bisa lepas. Dua panah kecil menancap ditubuhnya. Belut diletakkan di batu untuk kemudian digorok sejengkal dari kepalanya. Sosok seperti ular itu pun tamat riwayatnya diiringi senyum gembira “pappana”.

Usaha jauh lebih ringan kalau targetnya ikan kecil, misal ikan “torapeq”. Ikan yang terkena panah langsung saja dirangkai di “pattolor” atau dimasukkan ke dalam keranjang khusus. Kadang anak kecil menggunakan botol air mineral. Rasa dingin dan lapar membuat saya membayangkan betapa enaknya ikan itu dimakan usai digoreng berbahan minyak kelapa mandar.

Kegiatan mereka mencari ikan, sebagian besar untuk konsumsi pribadi, dilakukan berjam-jam. Saya yang hanya sekian menit ikut kegiatan mereka sudah kedinginan, apalagi mereka yang jauh lebih lama. Saat menyapa mereka, satu yang pasti, mereka bergetar. Tak jarang dari mereka, memegang bagian kelamin. Itu naluri saat dingin bagi laki-laki (entah perempuan), sebab tempat paling hangat tubuh adanya di situ.

Bagi mereka, yang tinggal di pinggir sungai dan sering melakukan perburuan ikan (apakah mereka bisa disebut nelayan?) sudah tahu di mana ikan bersembunyi. Di sungai, pada dasarnya ikan berada di tempat yang mereka merasa aman di situ: lubang, di bagian gelap atau ceruk di dasar sungai. Nah di situlah ikan dicari.

Teknik menangkap ikan penting diketahui apalagi dalam keadaan “survival”. Caranya macam-macam. Bisa membuat pancing dari ranting kecil, tombak kecil yang diujungnya ada beberapa kayu runcing, bisa juga dengan perangkap. Kecuali memburu ikan langsung di sungai, misal menembak atau memanah, cara lain (perangkap atau pancing) lebih dianjurkan sebab bisa menghemat energi. Ini penting diketahui sebab ketika berada dalam kondisi darurat, kita dibatasi oleh pasokan energi (makanan dan minuman).

Salah satu tujuan melakukan Ekspedisi Sungai Mandar adalah melatih teknik-teknik pengetahuan “survival”. Tapi itu urung dilakukan sebab dibatasi waktu. Membuat perangkat butuh waktu satu dua jam, belum lagi masak-masaknya. Meski demikian, setidaknya saya ikut mencoba menyelam, merasakan sensasi “orang-orang sungai” (untuk tidak menyebutnya “orang-orang laut) menyelam mencari ikan. (Bersambung)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top