Ekspedisi Sungai Mandar (05), Pegal Mendayung Setara Habis Push Up 500 Kali – Sulbar Express
Feature

Ekspedisi Sungai Mandar (05), Pegal Mendayung Setara Habis Push Up 500 Kali

Berkemah di pinggir Sungai Mandar, Lullung 19 Agustus 2018.

Melakukan perjalanan jauh pasti ada capeknya. Tumpukan asam laktat di otot. Jalan kaki yang pegal otot betis, bersepeda paha dan pantat (yang kedua ini campur panas).

Oleh: Muhammad Ridwan Alimuddin

Kalau mendayung? Lelah dan pegal mulai dari telapak tangan, lengan, menjalar ke pundak dan tulang belakang.Tak usah tanya apa mau dipijat atau tidak usai mendayung berkilo meter.

Hari pertama Ekspedisi Sungai Mandar dari Taramanu hingga Lullung berjarak lebih kurang 12 km (kalau garis lurus, hanya 6,5 km). Sebagai hari pertama lumayan untuk pengenalan. Hasilnya pun demikian, nyaris tidak ada kendala berarti. Perahu kayak juga tak mengalami masalah meski sering kandas dan menghantam batu.

Perjalanan saya di Sungai Mandar dipantau oleh tim darat yang terdiri dari Bashar, Nasa dan Iman. Mereka semua lewat jalur darat menuju titik yang telah ditentukan. Hari pertama saya pilih titik temunya di Lullung, kampung kecil di sekitar Sungai Mandar. Beberapa tahun lalu, 2015, saat berkuda bersama kak Nirwan Arsuka (Bapak Pustaka Bergerak Indonesia), kami bermalam di situ, di rumah penduduk. Saat sore, kami memandikan kuda di pinggir Sungai Mandar di Lullung. Setidaknya saya bisa membayangkan kondisi di mana kami, tim Ekspedisi Sungai Mandar, akan berkemah.

Sesaat ketika saya memulai start di Taramanu, tim darat langsung berangkat. Supaya komunikasi lancar, sebab di kawasan Tutar nyaris tak ada signal telephone, kami menggunakan HT (handy talky).

Sebab naik mobil, tim darat lebih cepat tiba daripada saya. Sepertinya juga akan tetap lebih cepat tiba kalau kaki non stop, sebab dari hitung-hitungan jarak relatif lebih dekat. Saat tiba, tim darat langsung pasang “fly sheet” di sekitar Sungai Mandar.

Saya tiba menjelang jam lima sore. Gembira bisa menyelesaikan perjalanan hari pertama ekspedisi. Tiba, ngobrol dengan teman-teman, bertukar pengalaman perjalanan. Di lain tempat, di sekitar kami, penduduk sekitar khususnya anak-anak, penasaran memperhatikan perahu karet yang saya gunakan.

“Ah, capek juga menanjak saat keluar dari Taramanu. Setelah berjalan beberapa kilometer kami minta tumpangan hartop tua yang kebetulan akan menuju Lullung. Tapi ah, ekstrim cara sopirnya bawa oto, lebih berbahaya dibanding balapan ojek kemarin,” kata Bashar. Menggambarkan capeknya jalan kaki menanjak kala meninggalkan Lullung, Nasa mengatakan, “Betis kayaknya akan six pack dalam ekspedisi ini” (membandingkan berototnya perut idaman pria, “six pack”).

Awalnya tenda terpasang di seberang sungai. Mempertimbangkan mobilitas atau akses ke sisi perkampungan (harus menyeberang pakai rakit), diputuskan untuk memindahkan tenda ke sekitar tumpukan batu seukuran kepala manusia. Batu-batu itu dikumpulkan oleh penduduk, yang kemudian akan dijual sebagai bahan bangunan. Lumayan, batu-batu besar bisa kami pinjam untuk kemudian gunakan merentangkan tali tenda (tidak perlu pakai patok, tinggal diikat ke batu yang berat tersebut lalu ditarik menjauh dari tenda).

Pengambilan batu sungai, baik ukuran di bawah kepalan tangan (kerikil) sampai seukuran kepala orang dewasa, adalah kegiatan tambang khas di kawasan hulu. Agak ke hulu, batu-batu ukuran besar mendominasi DAS, terkhusus di bagian yang berjeram. Di bagian itu juga batu lebih besar juga banyak, ada seukuran becak sampai mobil pete-pete. Bukan itu saja, malah ada bagian sungai yang DAS-nya adalah batu utuh. Kadang terkesima memikirkan cara terbentuknya. Orang-orang geologi tentu lebih paham tentang jenis batuan dan cara pembentukannya. Di beberapa bagian, proses erosi dan fenomena geologi yang dialami bebatuan tersebut menarik pandangan mata.

Melewati dan menyaksikan itu semua memunculkan banyak pertanyaan. Batu-batu itu datang dari mana? Gak ada habis-habisnya. Kalau di kaki gunung berapi, misalnya Gunung Merapi di Yogya, batu besarnya keluar dari gunung saat meletus. Tapi yang di Sungai Mandar datang dari mana ya? Dekat-dekat sini tak ada gunung berapi. Salah satu dugaan, itu berasal dari peristiwa geologi jutaan tahun lalu. Tadinya batu-batu besar, setelah mengalami erosi akan pecah menjadi ukuran kecil, demikian seterunya hingga menjadi pasir.

Pasir juga menjadi barang tambang di Sungai Mandar, tapi di kawasan hulu tidak semasif di kawasan muara. Di muara, misal di Desa Renggeang dan Desa Lekopadis (Tinambung), tambang pasirnya sudah menggunakan pompa. Ujung pipa besar diletakkan di dasar sungai (dipandu operator yang memegang ujung pipa), lalu dihisap menggunakan mesin diesel. Sepertinya itu disebabkan perbedaan sarana dan prasarana.

Ya, pasir dan bebetuan juga ada di kawasan hulu, tapi akses jalan ke sana cukup sulit. Memang sih truk bisa ke sana, tapi ongkos produksi (transportasi) lebih tinggi. Jadi, kalau memang ada tambang sumberdaya sungai di kawasan hulu, sebagian besar untuk digunakan sendiri. Misalnya untuk bangun rumah permanen. Jadi mereka tinggal beli semen saja. Batu atau kerikil dan pasir sudah ada di lingkungan mereka.

Malam kedua di ekspedisi, seperti malam pertama, masih memberi kedamaian. Tidur di pinggir sungai diiringi musik aliran air sangat luar biasa. Hanya saja suasana magis itu disertai pegal sekujur tubuh bagian atas. Pegal bukan main; pegal-sepegalnya, seperti habis push up 500 kali. Selain memang karena mengayuh jauh dan lama, faktor utama ini adalah kayuhan pertama saya paling intens. Sebelumnya paling beberapa meter. Nah ini, langsung lebih sepuluh kilometer.

Akhirnya menyerah, minta bantuan Nasa untuk memijat lengan dan pundakku. Otot tangannya lebih kekar dibanding Iman dan Bashar. Pijatannya lumayan meringankan. Badan pegal dan kecapaian membuat saya tak begitu panjang membuat catatan perjalanan.

Efek itu terasa puncaknya saat tidur. Kala terjaga dari tidur, badan nyaris tak bisa digerakkan, khususnya tulang belakang. Untung suhu malam tak begitu rendah, yang pasti akan membuat rasa pegal makin menusuk. Khawatir, apakah esok saya bisa melanjutkan kayuhan kalau pegalnya sakit begini? (Bersambung)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top