Keindahan Dibalik Ruas Bambu, Raup Untung Hingga Jutaan Rupiah – Sulbar Express
Mamasa

Keindahan Dibalik Ruas Bambu, Raup Untung Hingga Jutaan Rupiah

Sattu Pengrajin Bambu, saat sedang mempersiapkan bahan olahannya.

sulbarexpress.co.id, MAMASA – Mungkin sebagian orang menganggap bambu adalah tumbuhan yang tidak begitu penting, jika dilihat dari bentuknya, tidak ada hal menarik yang dapat dijadikan sesuatu yang bernilai. Namun siapa sangka, tumbuhan yang memiliki miang ini, disetiap ruasnya tersimpan keindahan yang dapat mendatangkan uang hingga jutaan rupiah.

Sattu (43) seorang pengrajin bambu jenis betung, warga Dusun Salulotong, Desa Tawalian Timur, Kecamatan Tawalian, Kabupaten Mamasa, mengaku hanya bermodalkan Rp.200.000, ia mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah, dengan menjual teko dan cangkir yang terbuat dari bambu.

“Saya pernah jual ke Toraja, hanya sekitar 500 buah, itu untungnya lebih dari 17 juta rupiah, modalnya hanya pembeli lem, kertas gosok dan cat saja,” akunya, Sabtu 22 September.

Hanya dengan alat sederhana, seperti pisau, pahat dan gergaji serta palu, Sattu bisa membuat beberapa item perabot rumah tangga yakni teko atau cerek, cangkir, asbak dan baki. Semua itu dibuat dengan cara manual. Dari per itemnya, waktu yang dugunakan untuk pembuatannya, paling lama 30 menit.

Untuk membuat kerajinan dari bambu, ada beberapa tahap yang dilalui, antara lain penyediaan bahan. Bahan yang digunakan, biasanya bambu yang tidak terlu tua dan tidak terlalu muda. Jika bahannya sudah siap, maka selanjutnya adalah tahap pembuatan pola. Pada tahap inilah menentukan model seperti apa yang akan diolah.

Setelah melalui proses pola, selanjutnya bahan yang sudah setengah jadi tadi direbus. Itu dilakukan agar bahannya tidak mudah retak. Untuk perebusan hanya menggunakan waktu kurang lebih setengah jam.

Setelah perebusan dilakukan, selanjutnya proses pengeringan. Setelah pengeringan dilakukan, berikutnya adalah tahap pengampelasan. Agar kelihatan halus, maka pada pengampelasan, dilakuakn dua tahap, yang pertama ampelas yang agak kasar dan yang kedua ampelas yang lebih halus.

Jika semua tahap di atas sudah dilakukan, maka tahap yang paling terakhir adalah tahap pewarnaan. Untuk pewarnaan, agar kelihatan libih indah, dan terlihat alami, Sattu biasanya menggunakan pernis.

“Yang paling lama dikerjakan biasanya pada tahap pengampelasan, itu karena butuh kejelian,” tutur Sattu.

Pekerjaan ini dilakoni Sattu sejak tiga tahun lalu. Untuk memasarkan hasil karyanya, Sattu menjualnya ke luar daerah Mamasa, seperti ke Tana Toraja dan pernah sekali dijual ke Bali.

“Karya saya sudah berapa kali dipamerkan, bahkan pernah dipesan orang dari Bali, itu harganya Rp. 500.000, hanya teko dan cangkir selusin,” tutupnya. (sam/hab)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top