UPAYA MENGOPTIMALKAN PEMENUHAN HAK ANAK DI INDONESIA , TINJAUAN HAK ANAK DI TENGAH BENCANA ALAM – Sulbar Express
Inspirasi

UPAYA MENGOPTIMALKAN PEMENUHAN HAK ANAK DI INDONESIA , TINJAUAN HAK ANAK DI TENGAH BENCANA ALAM

Dalam beberapa bulan terakhir ini kita ketahui bersama bencana melanda dibeberapa wilayah kota di Indonesia. Dari musibah yang biasa hingga yang berdampak luarbiasa. Dari yang memakan korban puluhan hingga yang menelan korban jiwa lebih dari ribuan.

Oleh : MACHNUN UZNI

(Founder Sahabat Misykat Indonesia)

Seruan kepedulian untuk menguluran tangan, menolong dan membantu sampai menurunkan relawan untuk memberi dan melayani menjadi bagian bagaimana nilai kemanusian dalam diri sesama anak bangsa dipertaruhkan. Dari sudut kota maupun pelosok desa terlihat nyata kepedulian, menyisihkan sebagian harta untuk membantu sesama. Meski dalam porsi yang tidak terlalu besar (kalah dengan berita hingar bingar perpolitikan) namun semua media memberitakan tragedi bencana, update akan jumlah korban jiwa dalam bentuk running teks dan lain sebagainya.

 

Musibah gempa bumi di Lombok Nusa Tenggara Barat, disusul gempa dan tsunami yang disertai lekuifaksi di Palu, Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah demikian sangat menguras emosi jiwa. Bagaimana tidak, tercatat kisaran 2536 jiwa teridentifikasi meninggal dunia, ribuan nama masih dalam status hilang dan ribuan korban lainnya belum diketemukan dan disinyalir tenggelam dalam bumi terkena lekuifaksi.

Analisa Korban Bencana Alam

Analisis dari London School of Economics di 141 negara pada tahun 2008  menunjukkan bahwa ketika terjadi bencana, jumlah korban perempuan relatif lebih besar hingga empat kali lipat, jika dibandingkan dengan jumlah korban laki-laki (KPPPA, 2017).

Analisa diatas berangkat dari data bagaimana korban perempuan umumnya terperangkap di dalam rumah ketika bencana datang, karena aktivitas domestik yang tengah mereka lakukan. Sedang memasak, mengasuh anak didalam rumah dan lainnya yang menjadikan perempuan terjebak saat musibah datang.  Laki-laki, di sisi lain, umumnya tengah melakukan aktivitas di ranah publik – aktivitas di luar rumah – ketika bencana datang; sehingga kesempatan mereka untuk menyelamatkan diri relatif lebih besar, jika dibandingkan dengan perempuan (UNIFEM, 2005; KPPPA, 2017).

Maka disisi ini sudah seharusnya perempuan menjadi prioritas untuk mendapatkan pertolongan dan pelayanan ketika musibah datang.

 

Bagaimana dengan anak-anak kita?

Membaca di group realwan kemanusiaan dan lembaga zakat, menjadikan kita perlu prihatin mendalam. Bagaimana tidak, ratusan anak terpisah dengan orang tua atau saudaranya. Saat musibah semua menyelamatkan diri, ada yang tidak tentu arah asalkan selamat. Bisa jadi ini menjadi musibah susulan, tentang anak-anak yang terpisah dan terputus kasih sayang dari orang tua yang belum ditemukan atau bahkan orangtua yang sudah meninggal.

 

Hak Anak Dalam Masa Tanggap Darurat

Sebagaimana amanah konvvensi hak anak, menjadi tanggung jawab kita bersama memberikan hak-hak anak dalam kondisi masa tanggap darurat. (1) Hak Sipil dan kemerdekaan. Dapat kita mengerti bersama dalam kondisi masa tanggap darurat ini jangan sampai terjadi pengalihan hak sipil dan kemerdekaan. Berapa banyak dengan semangat kepedulian sebagai panggilan fitrah kemanusiaan menawarkan untuk menjadi orangtua asuh, mengadopsi dan sejenisnya. Hal ini harus dibarengi dengan kewajiban untuk mengurus secara legal formal, kerelaan keluarga atau jika sudah dapat mulai berfikir maka posisi kemerdekaan anak dalam memilih menjadi mengedepan dalam pengambilan keputusan. (2) Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif. Musibah mengajarkan bagaimana lingkungan yang aman menjadi prioritas pilihan untuk memenuhi hak anak. Bukan sekedar skala lingkungan alam saja namun dalam lingkungan keluarga (baca:rumah) menjadi hal mendasar dalam kaitan ini. Bagaimana anak yang trauma, bermasalah dengan pengembalian jiwa utuh seperti sediakala akan mampu mendapatkan lingkungan nyaman dan dipenuhi kasih sayang dalam pengasuhan orang lain. (3) Kesehatan dan Kesejahteraan Dasar. Anak dalam masa tumbuh kembang yang terimbas oleh musibah bencana alam perlu mendapatkan perhatian khusus dalam masalah kesehatan dan kesejahteraan dasar. Apalagi anak yang harus mendapatkan pelayanan berkelanjutan dalam hal kesehatan karena dampak bencana. Tidak sedikit anak yang badannya menjadi cacat, atau sakit yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Demikian pula kesejahteraan dasar yang meliputi ketersediaan kebutuhan dasar anak harus menjadi perhatian prioritas pula. (4) Pendidikan, waktu luang dan kegiatan budaya. Tiga hal terkait tentu dalam rangka memulihkan kondisi anak.  Siti Mahmudah Indah Kurniawati dari Dinas Kependudukan, PP& PA Prov. Kaltim sekaligus Founder Biro Psikologi Inka Alzena menyatakan bahwa langkah pemulihan psikologis bagi anak korban bencana alam dapat dilakukan dengan mengembalikan keceriaan anak. Hal ini dapat di lakukan dengan cara,membangun arena bermain di sekitar pengungsian, mengajak mereka   bermain, bernyanyi serta bercerita hal-hal yang lucu. Diharapkan dengan ini anak-anak akan terbantu dalam melupakan trauma dan kesedihannya.  Dissamping itu mengembalikan kepercayaan diri anak-anak korban bencana alam sangatlah penting karena di antara mereka yang menjadi pemurung pasca kejadian tersebut. Tak kalah pentingnya adalah memberikan pendidikan (baca: sekolah darurat) kepada anak sebagai pengganti pendidikan sekolah yang mereka tinggalkan. Tentunya hal ini diberikan sesuai dengan usia pendidikan si anak. Landreth (2001) menyatakan bermain adalah pekerjaan anak sehari-hari. Dengan bermain anak-anak akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan disamping memotivasi secara intrinsic. Dengan bermain anak mendapatkan media untuk mengekpresikan diri, mengeluarkan ketegangan, kebingungan, dan bangkit dari merasa tak berdaya.  (5) Perlindungan Khusus. Anak tetaplah dipenuhi keterbatasan berfikir dan kekuatan. Orang dewasa wajib membersamainya. Ditengah bencana alam anak-anak harus mendapatkan perlindungan khusus. Harus ada ruang aman dan nyaman bagi anak-anak.

Ditengah pusat gerak peradaban, negara kita Indonesia berada pula dalam ancaman alam berupa gempa bumi, tsunami, banjir dan letusan gunung berapi. Mengedukasi masyarakat, membekali diri agar resiko bencana terkurangi adalah kewajiban kita bersama. Anak-anak ditengah musibah bencana harus terjamin hak-haknya. Menjadi kewajiban kita bersama untuk mewujudkannya. (*)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top