Pedagang Pasmal Tolak Relokasi

oleh -56 views
DISKUSI. Sejumlah Pimpinan OPD jajaran Pemkab Majene berdiskusi para para pedagang tentang penempatan lokasi pasar malam, Sabtu malam 4 Mei 2019.

MAJENE, SULBAR EXPRESS – Kegiatan pasar malam (Pasmal) di seputaran Lapangan Prasamya Majene, yang digelar setiap Sabtu malam dan Rabu malam dinilai menggangu sarana pemerintah.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Majene Anwar Lazim saat menerima kedatangan para pedagang pasmal, di Pendopo Rujab Bupati Majene, Sabtu malam 4 Mei mengatakan, keberadaan pasar Malam di seputaran Lapangan Prasamya Majene hingga ke area Telkom Majene sangat mengganggu akses ke Kantor DPRD Majene.

“Rapat-rapat sering dilakukan malam hari para anggota DPRD kita, sehingga jika bertepatan pasmal mereka sulit masuk ke kantor DPRD Majene,” sebut Anwar Lazim.

Selain mengganggu fasiltas pemerintah, sampah pedagang juga sangat mengganggu.”Kasihan sekolah yang berada di seputaran Lapangan Prasamya. Mereka terpaksa turut membersihkan sampah pagi hari setiap usai Pasmal,” katanya.

Disinggung rencana relokasi pasmal, mantan Kepala Disdikpora Majene ini menjelaskan, pemerintah akan merelokasi ke Jalan Alim Bachrie atau di Lingkungan Binanga Kelurahan Labuang Kecamatan Banggae Timur.

“Sebenarnya rencana ini sudah jauh hari dilakukan. Hanya saja belum langsung dapat direalisasi lantaran di wilayah sasaran masih terkendala dengan hempasan ombak pada musim tertentu. Kalau sekarang, kita sudah bisa menyiasatinya dengan jalan menempatkan pasmal di jalur satu jika ombak keras dan jalur satunya lagi dibuka jika cuaca mulai tenang,” ulasnya.

Ia mengaku, sebelum melakukan relokasi pasmal, pihaknya telah berkoordinasi dengan leading sektor terkait, seperti Dinas Perhubungan, Satpol PP, DLHK, Camat dan para lurah yang ada di Banggae Timur termasuk para kepala lingkungan.

“Kita juga sudah membahasnya dengan para pedagang. Alhamdulillah, kita semua sudah sepakat. Insya Allah mulai memasuki Ramadan, pasar malam sudah bisa ke titik sasar,” pungkasnya.

Namun harapan pemerintah untuk merelokasi para pedagang pasmal ketempat sasaran yang dimaksud kata Anwar, ditolak para pedagang pasar malam.

“Para pedagang ini, menolak dengan alasan bahwa lokasi sasaran tidak kondusif digunakan untuk berjualan lantaran berada sangat dekat dengan bibir pantai,” ujarnya.

Seoarang Ormas dari Laskar Anti Korupsi (Laki) Jabal Nur mengatakan, surat edaran Bupati Majene Nomor 550/461/2019, perihal penyampaian kepada pelaku usaha pasar malam, mulai tanggal 4 Mei 2019 kegiatan pasar malam dipindahkan dari jalan sekitar Stadion Prasamya Mandar Majene ke sepanjang jalan Aliem Bahri sekitar jalan pantai Binanga sampai ke Lingkungan Tangnga-tangnga.

Berdasarkan surat itu lanjutnya, pelaku usaha pasar malam menolak dengan alasan, karena kerap terpapar hembusan angin kencang sehingga tenda dan jualan kadang porak-poranda sesua yang pernah dialami sebelumnya.

“Hawa angin laut berdampak kepada barang jualan dan berbau terutama jenis pakaian. Pasilitas yang dipakai menjual yang terbuat dari besi cepat berkarat, begitu juga pakaian. Dan kesimpulannya pedagang sangat dirugikan, jadi memohon pemerintah mempertimbangkan rencana relokasi pasmal,” tandasnya. (hfd/sol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *