BALAS DENDAM SETELAH PUASA, WASPADA SILENT KILLER PASCA LEBARAN……!!!

oleh -118 views

MOMEN lebaran adalah hal yang dinantikan bagi sebagian besar masyarakat muslim di seluruh dunia. Momen ini kerap kali dijadikan ajang pelampiasan untuk mencicipi segala suguhan makanan setelah sebulan lamanya berpuasa. Padahal kebiasaan ini justru membawa pengaruh buruk bagi kesehatan tubuh.

Selain berat badan naik, asam urat, gula darah dan tersering adalah kolesterol. Adat dan budaya juga menjadi faktor resiko. Budaya silaturahmi, tidak afdol rasanya jika kita tidak mencicipi segala hidangan yang disiapkan empunya rumah.

Walau seadanya, namun perlu diketahui kandungan gula dan tepung dalam tiga buah kue nastar setara dengan sepiring nasi. Bisa dibayangkan jika kita telah makan seporsi daging, ayam, ketupat, dan beberapa cemilan kue-kue kering. Berapa kalori yang tertumpuk di tubuh ? itu untuk satu rumah saja.

Mari kita hitung kalori untuk satu rumah, jika kita memakan satu porsi opor ayam 512 kalori, untuk satu ketupat 200 kalori, rendang 100 gram 858 kalori, satu buah kue nastar 75 kalori.

Sehingga dalam satu kali makan lengkap sudah mencapai 1000-2000 kalori dalam satu kali kunjungan rumah saja. Sedangkan kebutuhan kalori untuk dewasa yang beraktivitas ringan berkisar 1500-2500 kalori saja perhari.

Jika berlebih, kalori ini yang akan tersimpan dalam bentuk lemak dan memicu peningkatan berat badan. Belum lagi kandungan lemak jenuh yang terdapat dalam makanan dapat memicu kolesterol tinggi.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, penyakit jantung di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Beberapa faktor diduga sebagai pemicu penyakit jantung diantaranya obesitas, karena meningkatnya indeks massa tubuh yang menyebabkan meningkatnya fungsi metabolik tubuh yang membutuhkan suplai oksigen lebih besar, sehingga beban otot jantung meningkat.

Kolesterol tinggi juga menjadi faktor pemicu penyakit jantung koroner karena dapat menyebabkan terjadinya sumbatan di pembuluh darah perifer yang mengurangi suplai darah ke jantung. Selain itu, Kolesterol tinggi ini dapat menjadi pemicu hipertensi dan stroke.

Faktor lain yang terkait adalah merokok, karena merokok dapat menyebabkan vasokontriksi otot jantung yang dapat mengurangi kapasitas daya angkut oksigen ke seluruh tubuh.
Keadaan kolesterol yang tinggi biasanya tidak menunjukkan gejala khas, seringkali seseorang baru mengetahui ketika mereka melakukan pemeriksaan kesehatan ke pelayanan kesehatan atau karena keluhan lain.

Hanya saja gejala yang sering ditemui yaitu sering pusing di kepala bagian belakang, tengkuk dan pundak terasa pegal, sering pegal, kesemutan di tangan dan kaki bahkan ada yang mengeluhkan dada sebelah kiri terasa nyeri seperti tertusuk.

Upaya pengobatan masalah kolesterol yang dapat dilakukan yaitu dengan pengobatan secara farmakolgis (dengan pemberian obat penurun kadar kolesterol) dan non-farmakologis (dengan pengendalian berat badan, aktivitas fisik yang teratur, meninggalkan kebiasaan merokok, mengurangi asupan lemak jenuh, serta peningkatan asupan serat).

Aktivitas fisik yang seimbang dan berkesinambungan dapat melatih otot jantung dan meningkatkan kekuatan otot jantung untuk meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh. Selain itu aktivitas fisik seperti olahraga dapat membakar lemak visceral yang dapat mengganggu otot jantung.

Jika telah membiasakan dengan pola hidup sehat, rutinlah kontrol kesehatan ke dokter. Walaupun tidak ada keluhan, mari kita mawas diri akan pentingnya kesehatan. Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati? (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *