Pemprov Ajak Stakeholder Ikut Bangun Daerah

oleh -55 views
HALALBIHALAL. Gubernur Sulbar, Sekprov, Forkopimda, lembaga vertikal, kepala OPD, tokoh masyarakat, dan jajaran ASN Pemprov Sulbar saat menggelar halalbihalal di auditorium kantor Gubernur Sulbar, Rabu 12 Juni 2019.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Pemprov Sulbar melaksanakan halalbihalal dengan seluruh jajaran OPD, lembaga vertikal, dan para tokoh masyarakat di auditorium kantor Gubernur Sulbar, Rabu 12 Juni.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun silaturahmi setelah libur panjang. Digelar dengan konsep budaya messulekka atau duduk bersila.

Gubernur Sulbar Ali Baal Masdar mengatakan berbagai agenda pembangunan Sulbar akan dilaksanakan agar bisa dirasakan masyarakat Sulbar dari semua aspek.

“Baik itu sektor pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Termasuk juga membangun konektivitas antar wilayah, serta menjaga kelestarian lingkungan,” kata Gubernur.

Ia menambahkan semua itu akan bisa tercapai jika semua stakeholder ikut sama-sama membantu pemprov dalam menjalankan program pembangunan daerah. Begitupun jajaran pegawai agar lebih meningkatkan kinerjanya.

“Kami berharap seluruh stakeholder, ASN, TNI, Polri dan instansi vertikal ikut berpartisipasi mendukung kami. Tentu sesuai perannya masing-masing dan tidak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama,” tambahnya.

Gubernur juga menyampaikan dengan budaya messulekka atau duduk bersila lebih mempererat kebersamaan sekaligus bisa menampung para tamu undangan yang hadir.

“Saya dengan pak sekda berpikir, dengan messulekka dapat menampung lebih banyak tamu yang hadir dan di dalamnya lebih nampak nuansa kebersamaan,” ungkap Gubernur.

Sedangkan, Sekprov Sulbar Muhammad Idris mengungkapkan halalbihalal dilaksanakan untuk merajut kebersamaan antara Pemprov Sulbar, Forkopimda, instansi vertikal, para ASN dan tokoh masyarakat.

“Semua stakeholder hadir bersama-sama untuk memberi makna halalbihalal sebagai sebuah momentum pembaharuan kebersamaan dan menghilangkan prasangka-prasangka buruk,” ujar Idris.

Sementara itu, lanjut Idris, dengan menerapkan budaya messulekka diharapkan dapat memberikan makna bahwa dalam melakukan perubahan harus dimulai dari standar yang sama atau adanya kebersamaan, yang mencerminkan tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain.

“Messulekka ini kita punya budaya dan biasanya dengan begitu kita lebih komunikatif dan kita bisa merasakan bahwa tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain,” tandasnya. (hab/sol)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *