Harga TBS Kembali Turun, Harus Ada Upaya Evaluasi

oleh -65 views
Sekretaris tim penetapan TBS Provinsi Sulbar Kimoto Boda memberikan keterangan kepada wartawan, Kamis 13 Juni 2019.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Bulan ini petani kelapa sawit kembali menelan kenyataan pahit. Ini karena harga tandan buah segar (TBS) sawit periode Juni mengalami penurunan.

Meski tidak signifikan, penurunan harga TBS berimbas pada pandapat petani sawit.

Sekretaris tim penetapan TBS Provinsi Sulbar Kimoto Boda mengatakan pada bulan Juni harga TBS ditetapkan sebesar Rp1.011,61 untuk umur sawit 10 hingga 20 tahun.

“Indeks K kita tetapkan 79,06 persen itu sudah diklarifikasi oleh semua perusahaan dan disepakati bersama,” kata Kimoto, Kamis 13 Juni.

Ia menambahkan untuk bulan ini terjadi penurunan sebesar Rp14,39 sen dari harga bulan sebelumya sebesar Rp1.026,00 sen.

“Tadi kita sudah klarifikasi turunnya harga disebabkan oleh harga CPO dan inti sawit sehingga adanya penurunan harga kita tetapkan,” tambahnya.

Pakar penentuan harga TBS sawit Prof Ponten Naibaho yang ikut hadir pada penetapan TBS kemasin mengungkapkan perlunya evaluasi dalam penggunaan data agar ada persamaan sehingga penetapan bisa mengalami kenaikan.

“Memang perlu perbaikan data agar bisa ditetapkan dengan baik juga. Karena saya lihat tadi ada perbedaan data pada masing-masing perusahaan,” ungkap Prof Ponten.

Selain itu, lanjut Prof Ponten, dengan adanya evaluasi serta perbaikan maka diyakini harga TBS kedepan berangsur-angsur akan membaik.

“Peran semua pihak termasuk Pemda masing-masing daerah untuk ikut serta mengontrol sangat dibutuhkan sehingga harga TBS bisa ditetapkan tanpa adanya perbedaan harga dan data masing-masing perusahaan,” tandasnya.

Penerapan Permentan 2018

Sdementara itu, Kamis 13 Juni, Dinas Perkebunan Sulbar melaksanakan sosialisasi penerapan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 1 tahun 2018 bersama para perusahaan dan petani.

Kegiatan tersebut merupakan pertemuan pemantapan penyerapan Permentan No.1 tahun 2018 tentang pedomam penetapan harga pembelian TBS kelapa sawit produksi pekebun.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Sulbar Abdul Waris Bestari mengatakan sosialisasi ini untuk memberi penguatan kepada tim TBS dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

“Kita harap ada peningkatan dalam setiap penetapan TBS yang tentunya berdampak positif kepada perusahaan dan petani,” kata Waris.

Prof Ponten Naibaho pada kesempatan tersebut mengungkapkan perlunya membangun mitra dengan baik agar penerapan Permentan berjalan dengan maksimal.

“Selama ini ada swadaya tapi belum maksimal. Jadi perlu dibuatkan kelembagaan agar lebih kuat lagi sehingga penerapannya maksimal agar harga setiap perusahan bisa sama,” kata Prof Ponten.

Ia menambahkan begitupun disetiap kabupaten dibentuk kelompok petani, maka bisa dibuatkan randemen TBS para petani.

“Maka itulah menjadi dasar untuk membayar harga hasil taninya oleh tim TBS. Karena selama ini beda-beda, makanya susah ketemunya saat penentuan,” tambahnya.

Prof Ponten juga menyampaikan untuk penerapannya perlu dikuatkan oleh Peraturan Gubernur yang dipegang masing-masing kabupaten maupun tim TBS dalam menetapkan harga.

“Saya sudah sarankan agar mengeluarkan Pergub seperti yang kami lakukan di pulau Sumatra kebetulan saya ketuanya di sana. Jadi bisa disosialisasikan disetiap kabupaten,” ungkap Prof Ponten.

Sementara itu, lanjut Prof Ponten, dalam Pergub tersebut akan menekankan agar petani swadaya itu untuk membentuk kelompok, karena selama sebagai pedagang pengumpul saja.

“Nanti itu akan ada perjanjian kontrak setiap tahun harga yang akan dibeli setiap perusahaan,” tandasnya. (hab/sol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *