DKP Salahkan Nelayan Penerima Bantuan Kapal

oleh -73 views

POLMAN, SULBAR EXPRESS – Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan kapal tangkap nelayan 3 GT tahun 2017, Untung Pristiwanto menyalahkan kelompok nelayan penerima bantuan karena kapal tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga terjadi kerusakan.

Menurutnya, kapal bantuan itu rusak lantaran ulah penerima manfaat yang seharusnya merawat dan mengoperasikan bantuan yang diberikan.

Sebelumnya, nelayan pulau Battoa penerima bantuan kapal tangkap dari DKP mengeluhkan kapal bantuan yang diberikan oleh Pemkab Polman melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) karena kapal sudah rusak sebelum digunakan.

PPK kapal bantuan nelayan 3 GT yang juga menjabat Kepala Bidang Pengolahan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DKP Polman Untung Pristiwanto mengatakan terdapat 11 unit kapal yang diberikan ke beberapa kelompok nelayan di beberapa Desa dan Kelurahan pesisir yakni di Karama, Tangnga-tangnga, Takatidung, Galung Tulu, Lantora, Binuang, Paku dan Mirring masing-masing mendapatkan satu unit perahu dan khusus untuk di Pulau Battoa Desa Tonyaman terdapat dua perahu yang dibagikan.

“Kapalnya dibuat di Majene melalui pihak ketiga dengan jenis kayu kelas dua. Yang di Pulau itu mengalami kerusakan karena tidak pernah digunakan oleh nelayan disana karena ada konflik di internal kelompok nelayan tersebut,” kata Untung Pristiwanto, Kamis 13 Juni.

Lanjutnya, nilai bantuan perahu tersebut tiap unitnya seharga Rp.120 juta yang sudah dilengkapi mesin, alat tangkap dan lainnya, sebelumnya, kata Untung pihaknya sudah menyampaikan kepada setiap kelompok nelayan penerima bantuan supaya tidak menerima barang yang dianggap tidak sesuai dengan mengembalikan ke DKP.

“Kami sudah minta untuk di cek baik-baik bila ada keluhan serahkan kembali ke kami (DKP, red),” ungkap Untung.

Ia juga menyampaikan tidak semua kelompok nelayan yang tidak memanfaatkan bantuan kapal tersebut, Sebab bantuan lainnya seperti kelengkapan alat tangkap dan mesin tetap digunakan oleh kelompok nelayan tersebut meski kapalnya tidak dimanfaatkan.

“Bagaimana tidak rusak kalau kapalnya tidak dipakai, kayu kapal itu akan lapuk dengan sendirinya kalau tidak kena air,” tandasnya.(ali/hab)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *