Deteksi Dini Bahaya Terorisme, Aparatur Kelurahan dan Desa Harus Berperan Aktif

oleh -148 views
SAMBUTAN. Sekprov Sulbar Muhammad Idris menyampaikan sambutan sekaligus membuka rembuk aparatur kelurahan dan desa tentang literasi informasi, Kamis 20 Juni 2019.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulbar melaksanakan rembuk aparatur kelurahan dan desa tentang literasi informasi mendeteksi dini terhadap bahaya terorisme, Kamis 20 Juni.

Sekprov Sulbar Muhammad Idris mengatakan perlunya pemberdayaan warga negara dalam menyampaikan informasi yang benar mengenai keadaan di lingkungan masyarakat. Sehingga bisa dilakukan pencegahan.

“Kelurahan dan desa harus mampu mengenali lebih dini bahaya terorisme dan gelagat kelompok-kelompok tertentu. Dengan memberdayakan masyarakat dalam hal menyampikan informasi yang ada di lingkungan baik RT, kampung-kampung kalau memang sudah ada gelagat aneh,” kata Idris, kemarin.

Ia menambahkan kelurahan dan desa tidak boleh lalai terhadap adanya bahaya terorisme. Sebab menurutnya keberadaan terorisme pasti awalnya bersemayam di unit-unit pemerintahan terkecil.

“Jadi sangat rugi rasanya kalau miliaran dana desa yang digelontorkan, kalau akhirnya tidak bisa menyentuh elemen fungsi utama dengan bagus,” tambahnya.

Sementara, Ketua FKPT Sulbar Rahmat Sanusi mengungkapkan penyebaran informasi melalui media sosial seperti facebook, instagram, twitter, dan media sosial lainnya sangat massif.

“Sehingga dibutuhkan literasi informasi yang massif pula. Kita berharap melalui kegiatan ini, bisa memberikan kita pencerahan, utamanya dalam membendung penyebaran berita hoaks,” ujar Rahmat.

Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis menuturkan pihaknya mendorong aparatur kelurahan dan desa untuk dapat memahami bahaya terorisme dan strategi pencegahannya, serta menyebarluaskan pengetahuannya kepada masyarakat.

“Terorisme bisa terjadi dimanapun dan kapanpun secara tidak terduga. Para pelaku merupakan bagian dari masyarakat yang setiap saat ada dan mendiami lingkungan sekitar kita bila kita lengah,” ungkap Hendri.

Hendri juga menyampaikan dalam menghadapi ancaman terorisme dibutuhkan kebersamaan. Sehingga diharapkan semua elemen dapat bersama-sama untuk saling mendukung, memberi semangat dan bangkit bersama termasuk meningkatkan ketahanan diri dari pengaruh paham radikalisme terorisme.

“Salah satu penyebab tingginya potensi radikalisme dan terorisme belakangan ini adalah faktor kemajuan teknologi yang tidak dibarengi dengan literasi masyarakat,” terangnya.

Selain itu, pada era pergeseran masyarakat yang awalnya di dunia nyata beralih ke dunia maya, menjadikannya tidak siap mengalami kesulitan dalam membedakan mana informasi yang benar salah.

“Situasi ini semakin diperparah dengan semakin merebaknya berita bohong (hoaks, red) yang mengalir deras di dunia maya,” tandasnya. (hab/sol)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *