MARAKNYA HOAKS MEDIS YANG MENJANGKITI MASYARAKAT

oleh -156 views

Semakin berkembangnya teknologi, memungkinkan kita untuk mengakses informasi jauh lebih cepat dan lebih mudah. Tak heran jika beberapa informasi kini mudah didapatkan hanya dengan sentuhan jempol.

Ilmu dan informasi yang kita butuhkan tak perlu lagi repot-repot membuka tumpukan buku bacaan. Cukup dengan mengakses informasi lewat internet dan apapun yang dibutuhkan akan tersaji lengkap di sana. Sayangnya, kemudahan mendapatkan akses informasi, tidak dibarengi dengan tingkat daya filter masyarakat akan informasi tersebut.

Hoaks masih menjadi masalah hingga kini. Masifnya perkembangan media sosial membuat kita sulit membedakan apakah informasi ini hoaks atau kah sahih. Istilah hoaks sendiri sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Arti hoaks menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah “berita bohong”, sedangkan menurut beberapa kamus yaitu “malicious deception” atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Asal kata hoaks sudah ada sejak zaman dahulu, yakni “hocus” dari mantra “hocus pocus”, frasa dari para pesulap yang artinya serupa dengan “sim salabim”.

Berita hoaks kerap kali diimingi dengan ajakan, ancaman ataupun yang bersifat menakuti-nakuti yang membuat resah masyarakat serta seruan provokatif yang menggiring opini publik ke arah negatif. Dan sayangnya informasi ini dengan sangat mudah disebarluaskan. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), organisasi masyarakat sipil antihoaks yang berdiri sejak November 2016, pernah mendata jumlah laporan hoaks yang mereka terima sepanjang tahun 2018. Hasilnya, ada 997 hoaks yang berhasil mereka deteksi dalam setahun itu. Ini berarti, dalam sebulan rata-rata terdapat 83 hoaks. Di tahun 2019 tercatat peningkatan hoaks yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya menurut data Kominfo

Hoaks bisa mencakup informasi apapun, yang terbanyak salah satunya tentang kesehatan setelah sosial politik diperingkat pertama, dan SARA diperingkat kedua. Hoaks kesehatan mencakup bentuk pengobatan alternatif dan beberapa tindakan medis. Survei MAFINDO, 44,19%  masyarakat Indonesia belum bisa mendeteksi hoaks. Hoaks ini pun tak mengenal kalangan, masih banyak kalangan berpendidikan percaya berita hoaks yang tidak dilandaskan referensi valid atau evidence-based.

Indonesia merupakan negara dengan aktivitas jejaring sosial tertinggi di Asia, namun dari segi aspek pendidikan pula negara Indonesia berada pada posisi paling bawah dalam hal minat baca. Artinya sangat mudah bagi orang Indonesia untuk menyebarkan informasi hoaks tanpa menelaah lebih dalam tentang informasi yang didapatkannya.

Hoaks medis yang menjangkiti masyarakat harus mendapat perhatian serius. Jelas hal ini akan merugikan masyarakat itu sendiri, apalagi bila dipraktekkan langsung hingga berakibat fatal, yaitu kematian. Sudah ada beberapa korban fatal hoaks kesehatan, salah satunya penderita stroke yang meninggal, karena saat terkena stroke tidak langsung di larikan ke rumah sakit, tapi malah dibuat tindakan, telinga dan jari kakinya ditusuk jarum, yang katanya untuk melancarkan peredaran darah. Bukannya bertambah baik, malah menambah keluhan bagi pasien, misalnya infeksi langsung dari jarum yang tidak steril. Padahal jika saja segera di bawa ke rumah sakit, dan ditangani secepatnya, pasien masih bisa diselamatkan.

Adapun pasien diabetes atau kencing manis yang harus diamputasi kakinya karena lebih memilih mempercayakan ke pengobatan alternatif, alih-alih membaik, malah tambah memperburuk keadaan pasien. Beberapa harus meregang nyawa akibat komplikasi dari penyakit. Beberapa contoh hoaks yang beberapa minggu ini booming adalah cara menyembuhkan penyakit jantung dengan memukul-mukul pundak dan siku. Berdasarkan literatur medis tindakan ini tidak memberikan efek sama sekali kepada pasien. Belum lagi soal hoaks ibu hamil yang katanya tidak boleh makan daging, nanti anaknya susah keluar. Padahal daging adalah salah satu sumber protein yang sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Bukannya malah menyembuhkan tapi, memperberat beban kerja dokter, karena akan berakibat pada komplikasi yang lebih serius. Ditambah lagi kasus prokontra vaksin. Entah dari mana asal muasal berita hoaks ini, namun sebagian besar masyarakat masih saja percaya akan hal ini, bahkan beberapa mempraktikannya di kehidupan sehari-hari.

Dari keterangan Kominfo, sulitnya mengatasi berita hoaks, karena harus melalui proses verifikasi, terlebih lagi untuk hoaks di bidang kesehatan. Perlunya upaya menangkal berita hoaks yang langsung diverifikasi oleh bagian Kementerian Kesehatan. Untuk itu dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk turut andil dalam menepis hoaks. Pentingnya bersikap kritis terhadap berita yang didapat, apalagi jika berita tersebut tidak jelas sumbernya. Hentikan memviralkan berita hoaks seputar kesehatan yang dapat menjerumuskan masyarakat. Bagi masyarakat tidak ada salahnya bertanya pada profesi yang benar-benar ahli dibidangnya. Walaupun akses seputar kesehatan di internet sudah disediakan, namun bisa saja kita kurang atau bahkan salah menginterpretasikan, dan belum tentu informasi yang didapatkan pula benar adanya.

Masyarakat juga perlu dibekali dengan pengetahuan akan penggunaan internet secara sehat sehingga dapat mengenali ciri-ciri berita hoaks, dan penerima berita dapat mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dalam mengambil makna dari suatu berita. Bagi masyarakat ada baiknya saring sebelum sharing. Dan mari budayakan gemar membaca, dan sadar akan pentingnya kesehatan. (**)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *