PFM Muda BPOM Makassar Raih Gelar Doktor

oleh -521 views

MAKASSAR, SULBAR EXPRESS – Fungsional Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM) Muda Bidang Infokom BPOM di Makassar Desi Isnaeni Arham berhasil meraih gelar doktor ilmu administrasi publik pada program pasca sarjana Universitas Negeri Makassar (UNM).

“Secara kelembagaan kami mengapresiasi atas pencapaian gelar doktor kepada Desi Isnaeni Arham. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat,” kata Kepala BPOM di Makassar Abdul Rahim.

Menurut Rahim, pencapaian gelar doktor Desi Isnaeni Arham menjadi motivasi bagi keluarga besar BPOM. Khususnya di Makassar.

“Sebab tidak banyak dari BPOM yang mencapai prestasi ini. Makanya kami harapkan ini bukan menjadi pencapaian pribadi, tapi menjadi pencapaian BPOM secara menyeluruh,” imbuh Rahim.

Untuk diketahui, gelar doktor Desi Isnaeni diraih setelah mengikuti sidang terbuka di hadapan penguji UNM di aula gedung Program Pasca Sarjana. Perempuan kelahiran Cirebon ini mengangkat karya tulis ilmiah (disertasi) dengan judul “Akuntabilitas Pelayanan Publik Pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kota Makassar”.

“Terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu. Terimakasih kepada informan-informan pengguna BPJS Kesehatan yang sudah menjadi responden pada faskes pertama dan faskes lanjutan penyedia pelayanan kesehatan BPJS,” kata Desi.

Desi berharap dengan penelitian ini, BPJS Kesehatan dapat meningkatkan lagi akuntabilitas administrasi yang dapat berpengaruh pula pada akuntabilitas keuangannya.

Selain itu ia berharap agar kedepan pelayanan berjenjang dengan prosedur yang lama dan terkadang berbelit-belit dapat dipangkas dengan debirokratisasi prosedur di BPJS dengan pemanfaatan teknologi pada strategi kontrol dan layanan pelanggan.

Sebab pemanfaatan teknologi dalam pelayanan BPJS kesehatan berupa e-goverment akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Adanya spirit penggunaan teknologi pada e-goverment era 4.0 ini akan dapat membantu kepercayaan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan dan informasi kesehatan.

“Penggunaan dan pemanfaatan e-Government ini dapat memangkas birokrasi dengan mengubah pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan yang semula berorientasi pada sistem antrian (in line) di depan meja dan tergantung pada jam kerja berubah menjadi layanan online sehingga muncul istilah “don’t stay inline get online” yang dapat diakses website melalui komputer yang terhubung ke internet selama 24 jam,” tandas Desi. (**)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *