Percepatan Penurunan Stunting, Pemkab Gelar Rembuk Aksi

oleh -274 views
Bupati Mamasa Ramlan Badawi menyampaikan sambutannya pada acara pembukaan Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting.

MAMASA, SULBAR EXPRESS – Di Kabupaten Mamasa, tersapat 27 Desa pada sembilan kecamatan dinyatakan masuk zona merah penderita penyakit stunting. Untuk Sulawesi Barat, Mamasa merupakan kedua tertinggi penderita stunting setelah Kabupaten Polewali Mandar.

Penyebab stunting adalah hasil dari berbagai faktor yang terjadi di masa lalu. Misalnya asupan gizi yang buruk, berkali-kali terserang penyakit infeksi, serta berat badan lahir rendah (BBLR).

Kondisi tidak tercukupinya asupan gizi anak ini. Biasanya tidak hanya terjadi setelah ia lahir saja, melainkan bisa dimulai sejak ia masih dalam kandungan.

Hal ini disebabkan oleh asupan ibu selama hamil kurang bergizi dan berkualitas. Sehingga nutrisi yang diterima janin cenderung sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi akibat kebutuhan gizi anak saat masih di bawah usia dua tahun tidak tercukupi. Entah itu tidak diberikan ASI eksklusif, ataupun MP-ASI(Makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas.

Sebagai respon cepat, Pemerintah Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat menggelar rembuk aksi percepatan penurunan stunting. Rembuk ini diikuti seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Kepala Puskesmas se-Kabupaten Mamasa.

Kegiatan ini melibatkan pula Kementerian Kesehatan dan Kemnterian Dalam Negeri sebagai pemateri, berlangsung di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Mamasa, Selasa 23 Juli.

Kegiatan rembuk dibuka secara resmi oleh Bupati Mamasa, Ramlan Badawi. Ia menyampaikan, kegiatan itu sebagai upaya mengintervensi stunting di Kabupaten Mamasa.

Kata dia, penanganan yang dilakukan oleh Pemda Mamasa sudah terlambat. Sehingga angka pendertia stunting tinggi.

“Ini bikin malu, kita urutan kedua di Sulbar tertinggi stunting,” katanya siang tadi.

Keterlambatan itu, lanjut dia, diupayakan akan dikejar sehingga penanganan stunting dapat dicegah. Sebagai respon terhadap persoalan ini, ia mengaku akan menyiapkan anggaran untuk penanganannya, demi generasi Mamasa.

Senada itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, Hajai S Tanga mengatakan, rembuk stunting yang merupakan program ketiga dari konveregensi, lebih kepada implementasi.

Ia menjelaskan, melalui kegiatan ini akan terlihat apa yang dilakukan dalam penanganan stunting kedepan.

“Penanganan stunting ini mesti diselesaikan secara bersama-sama,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Bapelitbang Mamasa, Gusty Hermawan mengatakan, kegiatan yang dilakukan sebagai bagian dari aksi konvergensi dalam rangka penanganan stunting.

“Ini sudah aksi ketiga yang kita lakukan untuk satu siklus, menuju aksi keempat,” tuturnya.

Kegiatan ini, lanjut dia, lebih kepada pemahaman bersama menindaklanjuti yang telah disepakati dua tahapan yang sudah dilakukan yaitu analisis situasi dan rencana kegiatan. Menurutnya, kegiatan ini juga bagian dari menyatukan persepsi dan komitmen tentang langkah-langkah aksi konveregensi selanjutnya. (sam/sol)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *