Asap Rokok Itu Menular, Kenali Thirdhand Smoker !

oleh -185 views

PADA saat ini merokok masih menjadi masalah besar di Indonesia. Meskipun sebagian besar masyarakat mengetahui bahaya merokok, namun kebiasaan merokok tetap membudaya di masyarakat. Dulu aktivitas merokok mayoritas dilakukan oleh orang dewasa. Namun kini remaja hingga anak-anak pun tak luput dari aktivitas ini.

Jumlah perokok di Indonesia cenderung menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Bahkan prevalensi perokok di atas 15 tahun cukup tinggi. Data Riskesdas 2018 menunjukkan jumlah perokok diatas 15 tahun sebanyak 33,8 %. Dari jumlah tersebut 62,9 % merupakan perokok laki-laki dan 4,8% perokok perempuan. Peningkatan jumlah perokok ini dibarengi dengan peningkatan proporsi penyakit akibat konsumsi rokok. Apalagi akses jual beli rokok yang terbilang bebas dan cukup mudah didapatkan.

Menurut WHO, tembakau adalah produk yang setiap tahun mengakibatkan lebih dari 7 juta kematian dan kerugian ekonomi sebesar USD 1,4 trilyun, dihitung dari biaya perawatan dan hilangnya produktivitas karena kehilangan hari kerja.

Informasi yang didapat dari Riset Kesehatan Dasar (2015), seorang perokok di Indonesia rata-rata menghabiskan 12 batang rokok per hari. Di tahun 2017 (Survei Sosial Ekonomi Nasional), 14% pengeluaran rakyat Indonesia dialokasikan untuk padi-padian sementara 13,8% untuk rokok. Data yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS), selama setidaknya sepuluh tahun terakhir, menunjukkan konsistensi bahwa pengeluaran untuk rokok mengalahkan jumlah pengeluaran untuk kebutuhan bahan pangan lain seperti telur yang bermanfaat bagi bagi peningkatan gizi keluarga.

Masyarakat sering menyajikan rokok sebagai pendamping makanan dan minuman serta bagian dari upacara adat, memberi rokok sebagai imbalan juga sudah umum ditemui. Keputusan merokok timbul salah satunya karena ada pemikiran bahwa dengan merokok akan memperkuat image diri. Rokok dipercaya sebagai sarana pembuktian diri, penghilang kantuk, penambah konsentrasi, dan penambah nafsu makan, serta mengurangi kecemasan.

Rokok merupakan barang berbahaya yang bersifat adiktif. Terdapat berbagai bahan kimia yang terkandung dalam rokok, antara lain tar, nikotin, arsen, karbonmonoksida, dan nitrosamin.

Radikal bebas dalam asap rokok dapat mempercepat kerusakan seluler akibat stress oksidatif. Molekul target yang dirusak oleh radikal bebas adalah DNA, lemak dan protein. Kandungan kimia berbahaya dalam bentuk gas maupun volatil pada rokok menyebabkan terjadinya mutasi gen berkali-kali. Selanjutnya, kombinasi mutasi gen dan kerusakan DNA dapat menyebabkan ketidakstabilan genetik yang berakibat penyakit kanker.  Seseorang yang merokok 10 batang atau lebih per hari, memiliki harapan hidup rata-rata 5 tahun lebih pendek dan beresiko 20 kali lebih tinggi terkena kanker paru-paru dari pada yang tidak pernah merokok.

Dalam setiap kemasan produk rokok, terdapat tulisan yang berbunyi “merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin” Sayangnya masyarakat menolak sadar, akan kerugian dari asap rokok itu tidak hanya berdampak pada diri sendiri,tapi juga orang disekitarnya.

Ada beberapa istilah yang diberikan untuk perokok lini ini. Untuk perokok aktif, adalah  firsthand smoker yaitu orang yang melakukan aktivitas merokok dengan mengisap batang rokok secara langsung, untuk perokok pasif adalah secondhand smoker yaitu orang nonperokok yang menghirup asap rokok di udara dari perokok aktif. Sedangkan untuk perokok pihak ketiga adalah thirdhand smoker merupakan istilah untuk seseorang yang terkena zat sisa dari asap rokok yang menempel di permukaan benda di sekitarnya. Pada dasarnya, perokok pihak ketiga terkena racun dari rokok yang tertinggal di lingkungan.

Penelitian menunjukkan bahwa penyerapan nikotin dari asap rokok dapat berlangsung lebih cepat, dan jumlah yang terserap cenderung konsisten pada permukaan di dalam ruangan, termasuk permukaan kulit dan pakaian. Zat nikotin tersebut akan tersimpan dan dapat bereaksi dengan asam nitrat di udara sehingga membentuk karsinogen nitrosamine yang dapat diserap tubuh melalui pernapasan, pencernaan dan kontak terhadap kulit.

Zat sisa asap rokok dapat dideteksi dengan adanya bau rokok pada permukaan benda setelah tidak adanya asap rokok. Hal ini juga menunjukkan adanya racun dari rokok pada permukaan benda tersebut. Orang-orang bisa terpapar dengan bahan kimia ini dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi atau menghirup gas yang keluar dari permukaan ini secara langsung. Residu asap rokok yang tertinggal dan terkontaminasi dengan benda bersatu dengan partikel udara yang kita hirup. Residu rokok yang tertinggal pada benda atau udara sama berbahayanya dengan asap yang dihirup oleh perokok.

Pada kasus Thirdhand smoker, penderita dapat menghirupasap rokok yang  menempel pada pakaian, furnitur, tirai, dinding, tempat tidur, karpet, debu, kendaraan dan permukaan lainnya lama setelah aktivitas merokok. Seiring waktu, residu dari asap rokok menumpuk di permukaan. Zat sisa rokok akan bertahan dalam waktu yang lama hingga puluhan tahun, dan jumlah kadar racun yang tersimpan akan terus bertambah.

Anak-anak dan orang dewasa yang tidak merokok berisiko mengalami masalah kesehatan terkait tembakau ketika mereka menghirup, menelan, atau menyentuh zat yang mengandung asap rokok. Bayi dan anak kecil memiliki resiko lebih besar menjadi thirdhand smoker karena kecenderungan mereka terhadap benda yang dimasukkan ke mulut dan menyentuh permukaan benda yang terpapar, misalnya mainan. Anak memiliki sistem imun yang masih rendah dibandingkan orang dewasa, mudah bagi anak mengalami penyakit yang terkait asap rokok, salah satunya infeksi saluran pernapasan akut

Di Indonesia Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar sepuluh penyakit terbanyak di sarana kesehatan, rokok menjadi salah satu penyebabnya. Hal ini di dukung oleh sebuah penelitian yang menyatakan bahwa balita yang tinggal serumah dengan anggota keluarga yang merokok beresiko 5 kali lebih besar menderita pneumonia dibanding dengan balita yang serumah dengan anggota keluarga yang tidak merokok.

Untuk menghilangkan residu asap rokok yang melekat pada permukaan benda-benda dan ruangan di dalam rumah, diperlukan pembersihan seluruh sudut rumah, barang-barang, dan furnitur, hingga mengecat ulang dinding rumah untuk meminimalisir kadar racun yang melekat di dinding. Dan untuk orang tua upayakan jika dari lingkungan luar dan terpapapr asap rokok, ganti baju terlebih dahulu sebelum menggendong balita anda. Thirdhand smoker tidak dapat dihilangkan, namun dengan cara membuka jendela, menggunakan kipas angin atau AC, atau menciptakan lingkungan yang bebas asap rokok dengan membatasi merokok hanya pada area tertentu di rumah bisa meminimalisir paparan. (**)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *