Berkah Kelapa Sawit Bagi Warga Transmigran Tahun 1991, Sembilan Anak Sagap Rahuni Mengenyam Pendidikan Tinggi

oleh -352 views
Ketua kelompok Belotapura Program IGA Astra Agro Lestari Sagap Rahuni foto bersama petani sawit di halaman rumahnya di Dusun Lalundu I, Desa Minti Makmur Pakava, Jumat 23 Agustus 2019.

PASANGKAYU, SULBAR EXPRESS – Menyekolahkan sembilan anak hingga meraih gelar sarjana tidak selamanya bisa dilakukan oleh para ASN atau mereka yang bekerja di sektor formal dengan pendapatan lumayan. Buktinya banyak seorang petani yang bisa berjuang dalam memberikan pendidikan untuk anaknya demi masa depan. Sagap Rahuni salah satu.

Berawal dari niatnya untuk mengadu nasib dan rela meninggalkan tempat kelahiran di usun kecil yang bernama Dusun Loli, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala. Ia mencatat dirinya untuk bergabung bersama 50 orang dalam kelompok transmigrasi lokal ke Dusun Lalundu, Kecamatan Pakava, Donggala perbatasan lansung dengan Sulawesi Barat.

Untuk bisa sampai ke daerah tujuan transmigrasi, seorang ayah yang membawa satu keluarga harus menempuh perjalanan selama dua hari satu malam. Seharian menggunakan kapal kayu dari tanah kelahiran Loli dan berlabuh di pelabuhan kecil Jono salah satu di kecamatan Pasangkayu yang masih berstatus Kabupaten Mamuju saat itu. Seharian lagi harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.

“Pokok nya sumpah deh mas, waktu itu perasaan kayak gimana, gitu. Ada perasaan cemas yang terus membayangi selama perjalanan dua hari itu. Waktu itu saya pemikiran seperti berjudi, ndak tau kepastian hidup seperti apa nantinya. Soalnya ini bisa dibilang nekat dengan lansung membawa keluarga,” katan Saggap dengan penuh syukur, saat ditemui Harian Sulbar Express dikediamannya di Lalundu, Desa Minti Makmur Pakava, Jumat 23 Agustus.

Sebagai kelompok transmigran yang telah tiba di daerah tujuan pada pertengahan tahun 1991 lalu, sedikit membuat hati seorang ayah yang mempunyai sembilan anak itu senang.

pasalnya, mendapatkan jatah rumah dan kebutuhan bahan pokok untuk bertahan hidup selama satu tahun kedepannya. Tidak hanya itu, sebagai transmigran, Sagap juga mendapatkan lahan seluas dua hektar dari pemerintah setempat, meskipun masih harus dibabat seperti dengan 49 tansmigran lainnya.

“Untungnya semangat setelah memutuskan mengaduh nasib sebagai transmigran tak pernah kendor, Tidak lama, yang pastinya sebelum jatah kebutuhan pokok habis, kami harus membersihkan hutan menjadi lahan perkebunan untuk bisa segera digarap. Pada saat itu ketabahan kami diuji, saya rasa perasaan yang saya rasakan pada saat itu tidak akan pernah dirasakan generasi sekarang, meskipun transmigrasi itu masih ada,” kata Sagap menceritakan pengalaman hidupnya.

Hitungan setahun merasakan suka dan dukanya sebagai transmigran, pembagian bibit kakao sebagai tanngungjawab pemerintah pun tiba. Dan disitu pula lah puluhan transmigran itu berstatus petani kakao bersama warga trasnmigan lain dari pulau Jawa dan Sumatra.

Untuk pak Saggap sendiri, dirinya mempunyai kenyakinan bukan hanya bisa bertahan hidup tetapi bagaimana berjuang untuk kehidupan pendidikan bagi kesembilan anaknya kelak.

Meski sempat ada cerita tentang keberhasilan petani untuk komuniti kakao hingga awal hingga memasuki tahun 2000 an, namun sekarang hanyalah tinggal kenangan yang sempat memberikan mimpi. Yang dikarenakan mewabahnya penyakit kakao yang hampir menyerang semua lahan perkebunan petani khususnya di wilayah Provinsi Sulteng dan Sulbar.

Diwaktu bersamaa itu pula, tepatnya pada tahun 2004 perusahaan kelapa sawit PT Astra Agro Lestari tengah gencar-gencarnya menyosialisasikan tanaman kelapa sawit kepada masyarakat, dengan membawa program Income Generating Activities (IGA). Yakni, program perusahaan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat petani, diantara dengan membantu masyarakat membangun kebun kelapa sawit. Perusahaan memberikan bibit kelapa sawit yang disertai dengan pelatihan teknis budi daya kelapa sawit.

“Awalnya sih, kami petani belum percaya. Meski kami bisa menerima, tetapi kami tidaklah lansung mengganti komuditi sehingga kami petani tidak tetap mengikuti program perusahaan dan menanam sawit di sela-sela tanamam kakao kami yang sudah mulai tidak produktif lagi. Sebagai transmigran, mau tidak mau kami harus berpikir berjudi dengan pemikiran mengganti tanamam perkebunan kami dari kakao menjadi sawit atau tidak. Pada intinya kita harus mencoba yang baru dan tidak meninggalkan yang lama,” senyum Sagap yang saat ini mempunyai usia 70 tahun.

Setelah mamasuki tahu ketiga, Kecamba atau bibit bantuan Astra sudah mulai berbuah pasir dan melihat kelompok tani lainnya telah melakukan transaksi per bulannya dengan perusahaan dari hasil sawit, Sagap sebagai ketua Kelompok Tani Belotapura, memastikan dirinya dan anggota kelompok tani lainnya untuk fokus bertani kelapa sawit dan tidak menghiraukan lagi tanamam kakao yang sudah banyak mati.

Hingga memasuki tahap berbuah dan panen per sepuluh hari tanamam sawit yang seluas dua hektare, anggota kelompok tani menerima harga kelapa sawit dari perusahaan rata-rata Rp3,5 juta per bulanya tahun 2009.

“Sejak saat itulah, keyakinan kami para petani terhadap komuditi budi daya sawit lebih memberikan semangat dan mempunyai tujuan hidup dan cita-cita. Hampir semua masyarakat memperluas lahan perkebunannya dengan berbagai macam cara, ada yang membeli ada juga yang rela membuka lahan baru,” urai Sagap.

Ia mengungkapkan, dengan adanya industri perusahan kelapa sawit di daerah ini, bisa membantu perekonomian masyarakat petani, yang secara otomastis bisa meningkat pendapatan masyarakat dari tahun ke tahun hingga saat ini masyarakat bisa berpenghasilan di atas Rp7,5 juta dengan luas kebun per dua hektar setiap bulannya.

Dan itu sangat bisa dilihat saat ini, yang dulu semua petani mempunyai tempat tinggal seadanya, seperti rumah bantuan transmigrasi atau rumah kebun. Luar biasa, dusun Lalundu I sudah seperti kota dimana ada pasar, kantor perbankan, dan koperasi simpang pinjam, toko-toko besar yang keramaianya hingga larut malam.

“Alhamdulillah, dari hasil perkebunan kelapa sawit, tentunya dengan dukungan pemerintah dan perusahaan industri kelapa sawit, kami bisa membesarkan dan memberikan pendidikan yang cukup kesembilan anak saya. Lima diantaranya berhasil bergelar sarjana. Sebenarnya itu terjadi tidak hanya dikeluarga saya, tetapi hampir rata-rata petani sawit yang ada di Kecamatan Pakava ini. Bisa diliat di tetangga-tetangga saya atau di sebrang dusun ini. Sekali lagi saya minta maaf ini pak, saya bisa ngomong kayak begini karena saya merasakannya,” aku Saggap, yang juga kakek dari 19 cucu dan 6 cicit, saat menceritakan kisahnya sebagai transmigran hingga berhasil menyekolalahkan kesembilan anak ke jenjang perguruan tinggi. (ndi/sol)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *