UM Parepare Laksanakan Kegiatan Optimalisasi Hara In Situ

oleh -336 views

PINRANG, SULBAR EXPRESS – Fakultas Pertanian Peternakan dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Parepare melaksanakan program pemberdayaan pada petani di Desa Tapporang, Kecamatan Batulappa, Kabupaten Pinrang.

Kegiatan ini bertujuan, meningkatkan pendapatan petani dan juga upaya untuk mengurangi penggunaan pupuk anorganik di perkebunan. Merupakan program kemitraan masyarakat yang didanai oleh Kemenristek Dikti.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan menganut konsep pertanian terpadu dengan mengintegrasikan sektor pertanian dengan peternakan yakni tanaman lada, gamal dan ternak kambing. Metode kegiatan ini dilaksanakan dengan tahapan pelatihan dan aplikasi langsung di lapangan.

Ketua Tim Pelaksana Program Kemitraan Masyarakat, Harsani, menyampaikan bahwa kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama Kemenristek Dikti dan juga petani mitra di desa Tapporang. Kegiatan ini dilaksanakan sejak bulan Mei dan berakhir pada bulan Desember.

“Kami berharap melalui kegiatan ini dapat menjadi salah satu pemecahan masalah yang dihadapi oleh petani khususnya persoalan keterbatasan pupuk dengan mengoptimalkan siklus hara In Situ dan juga peningkatan pendapatan bagi petani,” ungkap Harsani.

Lebih lanjut dia menjelaskan model integrasi tanaman ternak ini menjadi solusi dalam mengurangi kerugian oleh petani akibat kemungkinan terjadinya gagal panen, karena model ini mengusahakan lebih dari satu kegiatan usaha tani yakni dari ternak kambing dan tanaman lada.

Selain itu ketersediaan akan pupuk organik dapat terjamin dengan adanya feces dan limbah sisa pakan ternak yang diolah menjadi kompos.

Ali Imran selaku petani mitra pada kegiatan ini sangat senang dengan adanya program ini. Sebab iya dapat pengetahuan baru tentang model pertanian terpadu dan dapat belajar mengoptimalkan potensi lahan yang dimilikinya.

“Saya tentunya sangat senang dan bersyukur dengan adanya kegiatan ini, saya menjadi banyak belajar tentang bagaimana cara mengoptimalkan lahan meski luasnya yang terbatas, dan juga belajar tentang pengolahan limbah kotoran ternak menjadi kompos,” tegasnya. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *