Tanggapi Aliran Menyimpang di Mamuju, Tim Pakem Mulai Lakukan Pendalaman

oleh -89 views
Tim Pakem melakukan rapat koordinasi terkait polemik aliran menyimpang di aula kantor Kejaksaan Negeri Mamuju, Senin 18 November 2019.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Tim Pengawasan Terhadap Aliran Sesat dan Aliran Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) Kabupaten Mamuju gelar rapor koordinasi (Rakor) di aula Kejari Mamuju, Senin 18 November.

Rakor dipimpin langsung Wakil Ketua Pakem Mamuju, Sinran. Hadir dalam rakor tersebut Wakil Ketua MUI Mamuju Hajrul Malik, Kemenag Mamuju, FKUB, Kasat Intel Polres Metro Mamuju Yulianto dan Dinas Kebudayaan. Rakor tersebut membahas aliran kepercayaan yang diduga menyimpang di Mamuju.

Wakil Ketua Pakem yang juga Kasi Intel Kejaksaan Negeri Mamuju mengatakan, rakor tersebut dalam rangka mengumpulkan informasi lebih dalam terkait dugaan penyebaran aliran sesat tersebut.

“Jadi baru sekedar pengumpulan informasi indikasinya karena sudah viral di media. Belum sampai pada pengambilan kesimpulan,” ucap Sinran.

Hasil masukan dari seluruh anggota Pakem yang hadir dalam Rakor, kata Sinran, akan ditampung untuk dikaji lebih dalam dan dilaporkan secara berjenjang kepada ketua Pakem Mamuju.

“Karena insyaAllah besok juga akan dilaksanakan rakor ditingkat provinsi. Hasil rakor di kabupaten akan ditindaklanjuti untuk dilaporkan ke pusat secara berjenjang,” ujarnya.

Sinran mengungkapkan hasil rakor para anggota Pakem memang memberikan masukan bahwa belakangan ada pertemuan-pertemuan dalam bentuk pengajian di Mamuju yang terindikasi menyimpang.

“Tapi indikasinya belum disimpulkan sesat atau tidak. Makanya terhadap indikasi itu akan disampaikan ke pimpinan. Apakah akan ada pemanggilan atau tidak, itu keputusan pimpinan,” bebernya.

Sementara Wakil Ketua MUI Mamuju Hajrul Malik mengatakan, fatwa MUI Pusat ada 10 indikator bisa dikategorikan aliran sesat.

“Jika salah satunya masuk. Tentu kita akan melakukan pemanggilan terhadap terduga pelaku perkelompokan yang diduga menyimpang ini untuk dilakukan pembinaan,” katanya.

Hajrul menyebutkan, adapun 10 indikator aliran sesat yang difatwakan MUI, diantaranya mengingkari salah satu dari pada rukun iman.

“Kalau ada yang katakan rukun iman itu hanya 5 atau 4, itu salah satu indikatornya sesat,” ucapnya.

Kemudian meyakini turunya wahyu setelah Alquran dan mengingkari otensitas dan kebenaran Alquran juga dipastikan menyimpan dari ajaran Islam.

“Nah indikasi kami yang kelima ini masuk dalam apa yang viral sekarang di Mamuju. Karena melakukan penafsiran Alquran tidak sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran,” ucapnya.

Ia menafsirkan ayat Alquran tertentu bahwa kita bisa melihat Allah.

“Nah ini yang saya peroleh, bahwa ada kelompok di Mamuju menafsirkan ayat secara sederhana dan sendiri-sendiri,” tambahnya.

Indikator selanjutnya adalah mengubah, menambah dan mengurangi pokok ibadah yang tidak berdasarkan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam dan suka mengkafirkan orang Islam.

“Nah indikasi kami, ini indikator kesembilan masuk yang saat ini viral di Mamuju. Misal haji tidak harus ke Baitullah, kalau ini benar ada. Ini masuk juga kategori sesat. Kemudian salat wajib tidak lima waktu. Tapi dua waktu. Nah ini juga masuk indikator,” katanya.

Kata Hajrul 10 indikator tersebut dijadikan acuan dalam mendalami dugaan aliran kepercayaan yang diduga menyimpan dan berada di Mamuju.

“Kita liat lebih jauh. MUI secara kelembagaan akan coba ketemu dengan mereka (pengikut, red). Kita tidak akan langsung menjustise, namun jika benar akan dilakukan pembinaan,” ucapnya.

“Dalam pandangan umat Islam inikan ada, kafir, fasik, dzolim dan dosa. Jadi jangankan umat muslim yang berdosa, fasik dan dzolim, yang kafir pun harus dilakukan pendekatan dan kita doakan agar menjadi orang baik jangan tiba-tiba langsung dihakimi sesat,” imbuh Hajrul.

Sebab pada indikator ke-10 itu jika ada orang yang mudah mengafirkan orang Islam, kelompok itu juga bisa dikategorikan sesat.

“Karena menghakimi orang sesat itu tidak dibenarkan. Karena itu adalah otoritas Allah,” sambungnya.

Menurutnya perkumpulan di Mamuju yang diduga sesat tidak diketahui namanya. Sebab tidak ada cantolannya ke Tarekat Naqsabandiyah, Khalawatiyah, atau Qodiriyah.

“Hari ini pak Ketua MUI sudah melakukan koordinasi ke Bontang dan MUI pusat karena ini sudah menjadi berita nasional,” tandasnya. (idr/sol)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *