Waspada DBD Mamuju Masuk Zona Merah

oleh -324 views
Dinkes Mamuju melakukan fogging dalam rangka pencegahan DBD, Kamis 28 November 2019.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Masyarakat Mamuju diminta waspada DBD dengan melakukan pembersihan lingkungan sekitar. Ini karena ada peningkatan angka temuan demam berdarah dengue (DBD).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Mamuju bahwa dari bulan Januari sampai November angka DBD terus meningkat menjadi 253 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Mamuju, Alamsyah Thamrin, mengungkapkan terkait peningkatan angka DBD itu dikarenakan musim pancaroba.

“Ada beberapa kasus memang meningkat dan paling banyak di Kecamatan Mamuju. Tiga hari terakhir, ada sebelas kasus dan itu kita perlu waspada artinya ketika memasuki dari musim kemarau ke musim hujan kita mesti waspasa,” kata Alamsyah saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Kata dia beberapa hari terakhir ini Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju gencar melakukan fogging untuk mencegah kembang biak jentik dan nyamuk.

“Fogging kita lakukan beberapa hari ini, dikarenakan peningkatan kasus DBD bulan ini (November, red) ada beberapa wilayah kasus DBD termasuk di Kecamatan
Simboro. Kemarin kita fogging di kompleks perumahan BTN Legenda, kemudian dilanjutkan di jalan Soekarno Hatta,” ucapnya.

Kata dia yang cukup meningkat tiga hari terakhir, ada 11 kasus dan memang perlu waspada artinya ketika memasuki dari musim kemarau ke musim hujan maka pasti ada peningkatan kasus apalagi Mamuju masuk zona merah.

“Kasus terkahir dari Januari sampai November ada 253 kasus. Cukup signifikan peningkatanya dibanding tahun lalu 168 kasus positif DBD,” bebernya.

Ia berharap peran aktif dari masyarakat dalam menanggulangi penyakit DBD, senantiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjaga lingkungan,

“Tidak menutup kemungkinan memasuki bulan Desember akan ada peningkatan lagi, dikarenakan masuk musim hujan. Tentunya perkembangan jentik DBD itu meningkat apabila masyarakat tidak melakukan kegiatan pembersihan lingkungan itu akan berbahaya,” ungkapnya.

Pihaknya terus melakukan fogging dan penyuluhan kepada masyarakat serta pemberian abate demi mencegah DBD.

Dari data itu rata-rata penderita DBD mulai dari umur enam sampai sembilan tahun dikarenakan daya tahan tubuh yang lemah dibanding dengan orang dewasa. (idr/sol)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *