Sastra dan Kemanusiaan (Catatan Pengajian KH D Zawawi Imron), Bahasa Cinta dari Seorang Sastrawan

oleh -255 views
Jemaah mendengarkan ceramah KH D Zawawi Imron di Desa Pambusuang, Polman.

Suatu keberkahan mendapat kesempatan menyalami salah satu kampung santri di Mandar, Desa Pambusuang. Terlebih pada Minggu 9 Pebruari 2020 kampung ini kedatangan seorang KH. D Zawawi Imran, Kiai tersohor di bumi pertiwi dan di beberapa belahan dunia dengan karya sastranya yang indah dan menyejukkan hati.

Rustan Suddin

(Guru MTsN 1 Polman/Pengurus IGI Polman)

Perjalanan sang Kiai asal Madura tersebut merupakan rangkaian silaturrahmi sekaligus membawakan acara Ngaji Sastra dan Kemanusiaan yang digelar Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) komisariat Sulbar.

Pengajian ini dikemas dengan sederhana di perkampungan bukan di ruangan tertutup berAC dan tidak perlu banyak biaya. Panitia pelaksana cukup menyiapkan bekas layar sandeq sebagai atap di bawah langit pertama dan terpal sebagai lapisan bumi tempat duduk lesehan peserta yang hadir, dan kursi sederhana untuk pembawa pengajian.

Tidak seperti pengajian pada umumnya yang berbicara konsep hitam putih, halal haram, surga dan neraka, pengajian ini lebih kepada sebuah ajakan untuk menguatkan kesusatraan dalam diri agar dapat melembutkan ucapan dan perbuatan yang terpancar dari hati yang murni.

Kiai Zawawi menilai, sastra adalah bahasa yang indah, penting untuk dimiliki semua orang. Menurutnya, sastra itu menolak permusuhan, ia mencintai keindahan. Sehingga dengan demikian, orang yang memiliki sastra yang baik akan jauh dari perpecahan dan merawat hubungan persaudaraan antarsesama.

Sastra diperkenalkan sebagai bahasa yang bijak dan arif, mengandung sesuatu yang bermakna. Sastra dimaknainya sebagai ungkapan bahasa yang indah, bertutur lemah lembut dan penuh hikmah. Kiai Zawawi mencontohkan sastra Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang indah dan penuh hikmah, Sayyidina Ali pernah ditanya, Wahai Ali, berapa jauh jaraknya dari Masriq ke Maghrib?. Sehari bagi perjalanan matahari, jawab Ali.

Kiai Zawawi menjelaskan bahwa bahasa yang paling kuat sastranya dan paling indah adalah al-quran, beliau melanjutkan, seandainya alquran ini diterjemahkan ke dalam terjemahan yang memiliki bahasa sastra yang kuat, maka kederangannya akan sangat indah.

Sastra juga mengajarkan manusia bagaimana cara menghargai dan tidak membanggakan diri, bahwa segala bentuk capaian-capaian manusia yang luar biasa adalah campur tangan Tuhan lewat hamba-hambaNya yang dekat dengan kita.

Ketika Kiai Zawawi menciptakan puisi yang baik, beliau menganggap bahwa apa yang dicapainya itu bukan dari dirinya, tapi anaknya ibunya.

Dalam puisinya tentang pahlawan, beliau menggugah kebaktian seorang anak terhadap orang tuanya, syairnya;
Kalau aku ikut ujian
lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu ibu yang aku sebut paling dahulu
Lantaran aku tau engkau ibu dan aku anakmu.

Ini memberi kesan bahwa prestasi yang diraihnya adalah jasa dari orang tuanya yang telah membesarkan dan mendidiknya. Orang tuanya adalah pahlawan utama baginya sebelum yang lain.

Begitulah pemaknaan Kiai Zawawi Imran tentang sastra, dari sastra kehidupan ini jadi bermakna, meruntuhkan ego, melembutkan hati dan menguatkan kecintaan antara satu dengan yang lain.

Untuk itulah, beliau dalam permenungannya selama tiga tahun baru menemukan makna “Hubbul wathan minal iman” (Cinta tanah air sebagian dari iman) yang dicetuskan oleh Kiai Hasyim Asy’ari bahwa agama dan nasionalisme adalah dua unsur yang tidak dapat dipisahkan.

Kiai Zawawi menjelaskan, kita hidup di tanah air Indonesia, negara ini telah memberikan kehidupan, kita telah menikmati hasil sumber daya alam di dalamnnya, maka sepantasnyalah kita mencintai tanah air ini dengan menolak permusuhan, menjaga persatuan dan kesatuan dan bertekad untuk menjadi bangsa yang maju. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *