Festival Inklusi 2020, Kesetaraan Jangan Hanya Diucapkan!

oleh -94 views
Para penyandang disibilitas dan eks napi tampak meramaikan Festival Inklusi 2020 di Mall Matos Mamuju akhir pekan kemarin.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Sekelompok komunitas kompak menyuarakan isu kesetaraan untuk semua dengan menggelar Festival Inklusi 2020 di Mall Matos Mamuju.

Garis Hitam sebagai inisiator kegiatan tersebut mengajak beragam komunitas diantaranya Gema Difabel Mamuju, Lentera Cita Indonesia, Manabrain, Resensi, Macanga Institute, PAP, Aksara Academy, Teras Aksara dan Sandeq Runners Mamuju. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan para narapidana sebagaimana fokus program pemberdayaan komunitas tersebut.

Festival ini memiliki beberapa kegiatan, diantaranya pameran kerajinan tangan, panggung seni yang melibatkan para napi dan penyandang disabilitas, lapak baca dan berbagi cerita inspiratif yang menghadirkan para pembicara yang peduli akan keberadaan napi dan penyandang disabilitas.

“Melalui Festival Inklusi ini kami berharap agar tidak ada lagi perbedaan antara kita, baik para napi, penyandang disibilitas dan warga lainnya, kita semua setara. Kami berharap, kita semua bisa menyadari, bahwa sebagai seorang manusia kita semua terlahir setara, sesuai dengan tema yang kita angkat, keseteraan untuk semua,” kata Ketua Panitia Festival Inklusi Muh. Ariefsan Burhanuddin, Minggu 16 Februari.

Arief menambahkan, fakta yang ada di lapangan, ketika para narapidana keluar dari rutan, sering terjadi diskriminasi oleh masyarakat dengan memberikan penilaian bahwa mereka adalah orang yang jahat.

Begitu pula dengan para penyandang disabilitas, mereka dianggap tidak mampu dan menyusahkan. Sehingga disepelekan dan diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Padahal sebenarnya ada potensi dari saudara kita yang dari rutan dan penyandang disabilitas, ada sebuah kreativitas dan energi dalam diri mereka, yang bisa bersaing dengan warga kita yang lainnya. Jika kita arahkan potensi itu bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual,” ujar Arief.

Nicky Claraentia Pratiwi Co Founder Tenoon.id yang juga seorang penyandang disabilitas mengatakan, keterbatasan fisik bukan suatu penghalang untuk terus berprestasi dan membantu sesama. Karena menurut Nicky, semua orang itu dilahirkan dengan kekurangan, namun kekurangan itu tidak harus ditunjukkan, justru kelebihan orang itu yang harus lebih ditunjukkan.

“Mungkin teman-teman bisa lihat, aku adalah penyandang disibilitas, menggunakan kaki palsu dari usia satu tahun, tapi satu hal yang selalu aku tanamkan, bahwa kita tidak bisa memilih di keluarga siapa kita dilahirkan dan dimana kita akan menutup mata (wafat). Tetapi kita bisa memilih, bagaimana kita akan diingat ketika kita menutup mata,” kata Nicky.

Nicky yang juga jadi pembicara diacara itu menegaskan, apa yang selama ia tanamkan pada dirinya, terus ia bawa baik ketika bersekolah dan bekerja. Hal itu juga yang ia bawa ketika memikirkan bagaimana kaum disabilitas itu bisa berdaya.

Hingga kini, Nicky dan tim berhasil memberdayakan sekitar 700 orang penyandang disabilitas baik di beberapa kota di Indonesia.

“Aku berharap dengan festival inklusi ini, kita bisa merubah persepsi, kita bisa merubah stigma, bahwa seluruh masyarakat Indonesia, seluruh individu yang menghirup udara yang sama dengan kita mampu memiliki kesempatan yang sama. Karena kesetaraan itu untuk semua,” tegas Nicky.

Sementara itu, Ketua Gema Difabel Mamuju Shafar Malolo mengungkapkan bahwa Festival Inklusi 2020 merupakan momen penting bagi Gema Difabel untuk memperkenalkan isu-isu difabel yang saat ini perspektifnya sudah berbeda.

“Sekarang sudah pemenuhan hak, itu yang ingin kami sampaikan dan tentunya ini penting selain kepada masyarakat tentunya kepada stakeholder di Sulbar bahwa sampai saat ini pemenuhan hak-hak difabel di Sulbar belum terpenuhi, beberapa ruang publik juga sangat tidak aksesibel bagi kami. Inilah menjadi konsen yang kita perjuangkan selama ini,” ucap Shafar.

Ia menambahkan pemenuhan hak difabel sudah dituangkan dalam undang-undang maupun Perda nomor 2 tahun 2019 tentang peyandang disabilitas. Olehnya, pemenuhan bukan lagi hanya dilakukan di kota melainkan sampai ke desa-desa.

“Justru teman-teman difabel di desa lebih susah lagi mengakses tempat-tempat pelayanan. Jadi harusnya aturan yang dibuat semuanya sudah dibahas mulai dari tingkat desa sampai pada tingkat provinsi. Sehingga ini bukan hanya wacana saja dengan kegiatan-kegiatan seromonial saja melainkan diaktualisasikan oleh semua tingkatan pemerintahan. Ditambah lagi semua pihak ikut terlibat dalam menyuarakan hak-hak difabel baik itu media, pemerintah maupun komunitas-komunitas,” tambahnya.

Sedangkan, Wakil Gubernur Sulawesi Barat Enny Anggraeny Anwar saat membuka acara mengatakan dalam sambutannya, di era modern saat ini dengan kecanggihan teknologi dan informasi tidak ada lagi perbedaan. Semua berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersaing sesuai dengan kemampuan.

“Dengan adanya kemudahan akses untuk mendapatkan pengetahuan, maka kaum difabel dan warga binaan dapat bersaing untuk menonjolkan kemampuannya. Bahkan terbukti ada diantara mereka ada yang mempu mengharumkan nama bangsa di berbagai ajang,” kata Enny.

Enny juga berharap agar masyarakat menghilangkan stigma negatif terhadap napi dan penyandang disabilitas. Sebab tidak jarang mereka menjadi korban bulliying dan dimanfaatkan. Mereka kadang dimanfaatkan pada kegiatan anti sosial bahkan sampai mendapatkan untung dari mereka.

“Kadang ada orang yang mencari untung dari penyandang disabilitas, mereka dieksplotasi dijadikan pemulung, pengamen atau peminta-minta yang memanfaatkan kondisi mereka untuk mendapatkan belas kasih. Untuk eks warga binaan juga sangat sulit untuk kembali diterima di masyarakat, bahkan ada juga pihak keluarga yang sudah tidak mau menerima kehadiran mereka,” ujar Enny.

Karena itu Enny berharap tidak ada lagi masyarakat yang mengucilkan dan memanfaatkan para penyangdang disabilitas. Serta menghilangkan stigma negatif para napi atau mantan napi, karena dampak dari sikap seperti itu akan merusak psikologi seseorang dan dapat berujung pada tindakan kriminal. (hab/sol)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *