Masa Depan COVID-19 di Indonesia

oleh -165 views

Akhir-akhir ini jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 terus meningkat. Tercatat lebih dari 2 juta orang yang telah terinfeksi, dan hampir menyentuh angka 200 ribu diantaranya meninggal yang tersebar di 213 negara di dunia (Update WHO 26/04/2020). Diprediksi, angka tersebut akan terus bertambah.

Di Indonesia jumlah penderita Covid-19 meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir. Per 26 April 2020, terjadi lonjakan mendekati angka sembilan ribu lebih pasien positif Covid-19. Banyaknya kasus positif tersebut menyebabkan beberapa daerah di Indonesia mencanangkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), hingga larangan mudik ataupun pulang kampung untuk membatasi penyebaran Covid-19 yang kini lebih tepat disebut sebagai silent killer.

Untuk itu beberapa istilah seperti OTG (orang tanpa gejala), ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), Confirmed (pasien positif SARS COV-2) dikeluarkan. Banyaknya istilah ini membuktikan, dunia medis masih dibingungkan dengan virus ini. Untuk itu pada dasarnya studi tentang covid-19 masa butuh banyak penelitian lebih lanjut.

Infeksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang atau berat. Tanda-tanda umum dapat diketahui dengan melihat gejala pernapasan seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan dan sesak napas. Pada kasus yang lebih parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian.

Namun varian kasus ditemukan di beberapa negara, mengemukakan bahwa orang yang terinfeksi COVID-19 lebih dari 60% tidak menunjukkan gejala sama sekali dikenal dengan OTG (Orang Tanpa Gejala) atau memiliki gejala ringan yang tidak spesifik, seperti diare, gangguan saraf, dan gangguan pada kulit yang menyerupai cacar.

Mengapa bisa terjadi demikian? Hal ini terkait dengan struktur komponen dari SARS-COV2 penyebab Covid-19 yang berikatan dengan reseptor ACE2 yang merupakan pintu masuk virus ini.

Reseptor ini tersebar dibeberapa organ manusia seperti saluran pernapasan, otak, saluran pencernaan, ginjal, kulit dan pembuluh darah. Yang terbanyak 80% berada di sel paru-paru.

Untuk itulah mengapa orang dengan positif covid-19 tidak hanya bergejala pada pernapasan saja, tapi bisa juga disertai gejala pada saluran pencernaan seperti diare, gejala pada sistem saraf seperti kejang, hingga kematian akibat mutiple organ damage (kerusakan multi organ).

Belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk virus ini. Namun, gejala yang disebabkan oleh virus ini dapat diobati. Oleh karena itu pengobatan harus didasarkan pada kondisi klinis pasien dan perawatan suportif dapat sangat efektif.

Meskipun beberapa pasien yang terinfeksi telah dinyatakan sembuh dengan hasil pemeriksaan test negatif sebanyak dua kali. Namun bukan tidak mungkin mengalami reinfeksi (kembali positif) kemudian hari. Beberapa negara telah melaporkan kasus reinfeksi pada pasien yang telah dinyatakan sembuh. Bahkan dilaporkan 5 hari setelah dinyatakan sembuh, pasien meninggal.

Modalitas pemeriksaan covid-19 sangat riskan akan false negatif (negatif palsu). Jika dilakukan pemeriksaan rapid rest dengan hasil negatif, jangan senang dulu, bisa jadi saat itu pasien belum mengeluarkan antibodi. Untuk itu sebaiknya dilakukan pemeriksaan 7-14 hari kemudian. Kalau perlu disarankan untuk pemeriksaan PCR yang lebih sensitif, kalau memang pasien terbukti ada gejala covid-19 atau pernah kontak dengan pasien covid-19.

Hal menarik yang kerap kali ditemukan, yaitu pasien yang telah dinyatakan sembuh dengan modalitas pemeriksaan PCR dinyatakan negatif, namun pemeriksaan sekelas CT-Scan bisa positif.

Kasus di Jepang, dengan pemeriksaan swab di saluran pernapasan (nasopharing) negatif, tetapi pada pemeriksaan CSF (cerebrospinal fluid/cairan otak) positif covid-19. Ada pula kasus pasien yang mengalami diare terus-menerus, diperiksa swab nasopharing hasil negatif, maka diinisiatif melakukan anal swab (pemeriksaan swab lewat anus) yang ternyata hasilnya positif. Begitu handalnya virus ini mencoba bertahan hidup pada inangnya.

Para ahli berpendapat bahwa virus memiliki sifat dorman. Yaitu ketika virus berada dalam tubuh manusia yang sistem imunnya bagus, virus bisa menjadi tidak aktif dan pasien tidak akan menunjukkan gejala hingga pemeriksaan menjadi negatif. Namun virus masih tetap berada dalam tubuh manusia dan sewaktu-waktu bisa aktif kembali. Sama halnya pada coronavirus. Namun hal ini masih diteliti lebih lanjut.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tertularnya virus ini adalah:
• Menjaga kesehatan dan kebugaran agar sistem imunitas/ kekebalan tubuh meningkat.

• Mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau hand-rub berbasis alkohol. Mencuci tangan sampai bersih selain dapat membunuh virus yang mungkin ada di tangan kita, tindakan ini juga merupakan salah satu tindakan yang mudah dan murah.

• Ketika batuk dan bersin, upayakan menjaga agar lingkungan anda tidak tertular. Tutup hidung dan mulut Anda dengan tisu atau dengan lengan (bukan dengan telapak tangan).

• Tidak menyentuh bagian wajah, seperti hidung, mulut maupun mata.

• Menjaga jarak saat berbicara dengan orang lain, sekurang-kurangnya satu meter.

• Gunakan masker ketika keluar rumah.

• Buang tisu dan masker yang sudah digunakan ke tempat sampah, lalu cucilah tangan Anda.

• Jangan termakan berita HOAX yang ada di media sosial dan terpancing dengan provokator yang tidak bertanggung jawab. Usahakan bertanya pada ahlinya.

• Minimalisir kerumunan dan tetap di rumah saja.

  • Jujur ke Tenaga Medis ketika anda telah kontak dengan pasien postif ataupun telah melakukan perjalanan dari zona merah.
  • Sedapat mungkin berikan dukungan moril dan materi pada pasien yang positif.

Jika kita bisa melakukan anjuran yang disarankan oleh pemerintah dan taat dengan aturan, maka kita bisa prediksikan masa depan Covid-19 di Indonesia tidak akan lama lagi, dan Indonesia bisa bebas dari coronavirus.

Namun, melihat masyarakat indonesia yang masih tidak peduli dengan aturan pemerintah dan menganggap virus corona adalah hal biasa terlebih maraknya berita teori konspirasi. Bukan tidak mungkin perjuangan Indonesia akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2020.

Karena perjuangan melawan virus ini bukan hanya pada tenaga medis dan pemerintah, tapi diri kita masing-masing, yang merupakan garda terdepan dalam perjuangan. Andalah sebagai garda terdepan. Tenaga medis adalah garda terakhir saat anda kalah di garda terdepan. Mari kita berjuang bersama. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *