Ombudsman Sulbar, Berhasil Luruskan Tagihan Denda P2TL

oleh -109 views

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Tim Ombudsman akhirnya menyelesaikan pengaduan warga terkait tagihan denda Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) dari PLN Mamuju, Jumat 5 Juni.

Aduan ini sampai ke meja Ombudsman RI Kantor Perwakilan Sulawesi Barat, lantaran tidak ada solusi antara pelapor berinisial AF dengan PLN.

AF bersikukuh menolak tagihan denda P2TL itu senilai Rp11 juta lebih lantaran pihak yang melakukan pemasangan Kwh di kediamannya yang ditinggali saat ini, adalah pemilik pertama berinisal ZN, meski demikian pihak PLN juga tetap bertahan yang berujung polemik panjang.

Atas upaya persuasif tim Ombudsman menengahi persoalan ini, akhirnya ditemukan solusi yang berkeadilan bagi semua pihak. ZN selaku pihak terkait bersedia melunasi tunggakan denda P2TL dan pihak PLN melakukan pemutusan aliran listrik dan melakukan pemasangan Kwh baru atas nama AF.

Asisten Ombudsman I Komang Bagus, menyampaikan apresiasi atas kepeduliaan semua pihak yang kooperatif sehingga polemik ini bisa diselesaikan dengan baik.

Ombudsman juga mengingatkan PLN Mamuju terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dan meminimasilir kejadian serupa, meski demikian Ombudsman tetap menyatakan siap berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam rangka mendorong terwujudnya pelayanan yang baik dan berkualitas.

Bagus juga mengatakan, sebelumnya beberapa kasus P2TL sempat terjadi di Mamuju atau Sulbar secara umum, banyak pelanggang PLN merasa takut dan trauma dengan tindakan PLN yang merazia penggunaan listrik.

Menurut PLN banyaknya pencurian listrik sehingga menimbulkan kerugian negara yang tidak sedikit.

Razia yang dilakukan PLN melalui program Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), merupakan shock therapy agar para pencuri takut terkena denda yang tinggi.

Namun, sejumlah pelanggan yang terkena denda merasa bahwa parameter pengenaan denda tidak transparan.

“Sebelumnya ada juga beberapa laporan serupa, warga bingung karena menilai tidak jelas bagaimana cara menghitungnya, sehingga sangat memberatkan,” pungkas Bagus. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *