Ekspor Olahan Sawit Tetap Stabil

oleh -79 views

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Dalam kondisi pandemi wabah Covid-19 yang dihadapi hampir diseluruh wilayah Indonesia, akan berdampak pada aktivitas ekspor.

Namun, untuk ekspor olahan sawit yang dimiliki Sulbar sendiri masih dalam keadaan stabil sampai saat ini.

Hal tersebut, disampaikan Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Mamuju Alice Sesa, dirinya mengatakan jika dilihat dari sistem data IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan) laju ekspor periode Januari sampai Mei tahun ini meningkat sebanyak 3,5 ribu ton atau 3,53% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 98,9 ribu ton.

“Tetap bertahan, bahkan masih bisa meningkat secara jumlah,” kata Alice, Senin 15 Juni.

Terlihat juga, baru-baru ini Kementerian Pertanian lewat Karantina Pertanian Mamuju kembali sertifikasi ekspor produk olahan sawit Refined Bleached Deodorised (RBD) Palm Olein milik PT. TSL Pasangkayu sebanyak 11.9 ton metrik ton tujuan China di Pelabuhan Tanjung Bakau Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), Sabtu 13 Juni.

Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil menyampaikan bahwa meski kenaiknya kecil, hal tersebut merupakan capaian yang luar biasa ditengah situasi saat ini.

“Barantan sendiri melalui berbagai inovasi dan kebijakan mendorong kemudahan ekspor komoditas pertanian,” ucap Ali Jamil.

Ia menambahkan dorongan ekspor tersebut dilakukan selain untuk membangkitkan kembali semangat agribisnis dalam negeri juga mempertahankan dan meningkatkan nilai tambah baik bagi petani maupun pelaku agribisnis.

Ali Jamil juga mengungkapkan berbagai kebijakan tersebut diantaranya kemudahan pelaporan secara online melalui sistem PPK Online, sistem pemeriksaan yang dilakukan dengan jemput bola ditempat eksportir, pendampingan ekspor melalui sistem _in line inspection_ juga mendorong pemasukan berbagai komoditas ekspor ke negara-negara baru dengan pemenuhan _sanitary and phytosanitary (SPS) measures_ melalui kerjasama antar pemerintah.

“Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bahwa meski situasi pandemi, namun pertanian harus tetap berjalan, karena petani harus mengambil kesempatan guna pemenuhan pangan baik dalam negeri maupun ekspor, karena pangan kita tetap dibutuhkan, tidak berhenti,” ungkap Ali Jamil di Jakarta.

Sementara itu, lanjut Ali Jamil Sulbar bersama-sama harus berjuang, terutama dalam menambah keaneka ragaman komoditas ekspor.

“Selama ini dari data sertifikasi karantina pertanian, ekspor dari Sulbar masih didominasi produk olahan sawit. Padahal jika dilihat dari data sertifikasi komoditas yang dilalulintaskan antar area, terdapat banyak potensi,” tuturnya.

Hal ini, terlihat dari beberapa komoditas yang diekspor melalui pintu lain setelah dilalulintaskan antar area. Seperti pisang, kelapa, sayur kubis, durian dan langsat.

Jamil berharap dapat bekerjasama dengan pemerintah daerah dan juga instansi terkait agar potensi tersebut daoat dikembangkan. Upaya ini penting agar tidak terjadi ketergantungan hanya pada satu komoditas. Ia juga mendorong agar komoditas-komoditas potensial ekspor tersebut dapat diolah lebih lanjut sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.

“Ini potesi yang baik dan harus dikerjakan bersama-sama, apa yang bisa kita berikan agar investor bisa investasinya untuk pengembangan ekspor tersebut, kita siap pasti mendukung dengan memberi fasilitasi ekspornya,” tandasnya. (hab)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *