Kuliah Kuliwa Saat Musim Angin Timur di Mandar

oleh -238 views
Masyarakat Mandar menggelar prosesi kuliwa.

Hari sebentar lagi senja di pesisir pantai Pambusuang. Aroma dupa di atas perahu begitu semerbak bersama doa-doa yang terembus ke langit. Satu persatu keluarga turun dari tangga rumah tanggung hendak mengikuti prosesi kuliwa, salah satu tradisi di Mandar yang masif diadakan setiap kali musim angin timur atau musim perburuan telur ikan terbang.

oleh: Irwan Syamsir
(Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman)

Pada waktu-waktu inilah para nelayan akan berangkat ke laut selama berhari-hari untuk berburu telur ikan terbang. Kuliwa biasanya diadakan sebagai rasa syukur atas suatu reski yang telah diperoleh dan penanda akan dimulainya sesuatu. Misalnya ketika pendirian rumah baru atau membeli barang berharga agar selalu diberi rasa syukur dan tak khilaf atas kenikmatan. Hal demikian bisa kita saksikan hanya sewaktu-waktu.

Berbeda ketika musim angin timur, bisa dibilang kita bisa menyaksikannya setiap hari. Kuliwa diadakan agar diberi keselamatan selama berada di laut. Kuliwa juga diadakan sebagai penghormatan terhadap ikan terbang.

Bagi masyarakat Mandar, ikan terbang adalah mara’dia atau tomanurung yang berarti raja atau ratu di tengah laut. Konsep tentang tomanurung itu yang disematkan terhadap ikan terbang, membuat masyarakat Mandar sangat menghormatinya. Itulah sebabnya kuliwa diadakan.

Dalam prosesi kuliwa, sebagaimana di gambar  disediakan kue cucur, bubur kacang hijau, dan pisang ambon, yang manisnya dimaknai sebagai harapan agar reski juga manis. Serta songkol, dan telur sebagai simbol kesuburan.

Filosofi berikutnya adalah saat kuliwa dilaksanakan, tanpa mesti menunggu doa dibaca, anak-anak diharapkan berebut makanan yang ada di nampan, sebagai ussul atau harapan ikan ikan di laut akan sama antusiasnya saat mengepung umpan yang disediakan pelaut.

Selepas itulah, beberapa hari setelah kuliwa diadakan, satu persatu perahu akan turun dan menghabiskan waktu berhari-hari di laut. Waktu yang bisa disebut cukup panjang karena pelaut harus bersabar menunggu sampai ikan terbang datang untuk bertelur.
Mereka harus sangat berhati-hati karena sebagaimana yang telah dijelaskan di atas ikan terbang adalah mara’dia atau raja di laut. Sehingga tidak bisa memaksakan bahkan berkata yang tidak-tidak saat di atas laut. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *