Usianya 72 Tahun, Maramang Terus Berjuang Merawat Putranya yang Keterbatasan Mental

  • Bagikan
Maramang bersama putranya yang mengalami keterbatasan mental. -- foto : m. danial --

SETIAP hari ia harus kerja keras. Selain untuk kebutuhan hidup, ia harus merawat putra semata wayangnya yang sejak lahir menderita keterbatasan mental.

Catatan:
M Danial

(Jurnalis)

Seperti itulah Maramang, perempuan tua warga Lambe, Desa Karama, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulbar.

Perjuangan menghadapi kerasnya kehidupan sudah puluhan tahun ia dijalani. Meski usianya sudah 72 tahun, baginya tidak ada pilihan lain kecuali bekerja untuk memeroleh penghasilan sendiri. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia menjadi buruh kelompok perajin tali tambang di kampungnya.

“Saya harus bekerja, cari uang sendiri. Biarpun sudah tua begini, asal saya sehat selalu pergi kerja,” tutur Maramang, di rumahnya, beberapa hari lalu.

Ia menyatakan bersyukur dan terima kasih yang peduli kepadanya. Tapi, “Malu juga kalau selalu berharap belas kasihan orang lain,” imbuhnya, seraya tersenyum.

Setiap hari Maramang berjalan kaki ke tempat kerjanya, yang tak jauh dari rumahnya di tengah permukiman warga Kampung Lambe. Berada di tempat kerjanya dari jam delapan pagi sampai sekira pukul jam sore.

Karena berada di tempat kerja sampai sore, perempuan kelahiran 1950 itu harus membawa bekal makan siang sendiri. Juga untuk putranya, Busman, yang harus diikutkan setiap meninggalkan rumah.

Walau usia Busman sudah 20 tahun, Maramang menjelaskan, jika putranya itu harus dibantu mengurus semua keperluannya. Karena itulah, Busman diikutkan kemanapun Maramang pergi. Bahkan, sekedar meninggalkan rumah untuk keperluan di kios tetangga, Busman tidak pernah ditinggal sendiri.

Perempuan tua yang mengaku sudah sering sakit-sakitan itu, menggambarkan perjuangan merawat putranya yang sejak lahir tidak bisa mengurus dirinya lantaran keterbatasan mental.

“Semua keperluannya harus dibantu, didampingi. Untuk makan, mandi, berpakaian, tidak bisa dia lakukan sendiri. Saat buang air pun harus tetap didampingi,” jelas Maramang, menggambarkan kondisi putranya.

Bekerja sebagai buruh perajin tali tambang, Maramang memperoleh upah Rp 400.000 setiap bulan. Katanya, penghasilan yang diperoleh tidak cukup untuk membeli keperluan sehari-hari. Apalagi, harga semua kebutuhan makin mahal. Tapi, ia bersyukur mendapat bantuan beras sepuluh kilogram setiap bulan dari pemerintah (desa).

Rumah Maramang terlihat memprihatinkan juga.
Berukuran 5 x 6 meter, berdinding susunan papan yang mulai lapuk. Sebagian lantainya dari papan, dan sebagian bambu. Maramang mengatakan mendapat bantuan perbaikan rumah, beberapa tahun lalu. Ia mengingat-ingat sebanyak Rp7,5 Juta. “Kalau tidak salah ingat tujuh setengah juta, katanya bantuan bedah rumah,” ujarnya.

Meski hidup prihatin, Maramang mengatakan selalu berusaha bisa berbagi kepada orang lain. Setidaknya, kepada temannya di tempat kerja. Bekal makanan yang disiapkan, kerap dilebihkan untuk dinikmati bersama. “Rasanya lebih nyaman kalau bisa dinikmati bersama,” tukasnya tersenyum. (*)

  • Bagikan